KALIANDA (Lampoat.co) -- Pertunjukan pawai Ogoh -ogoh yang diarak mulai dari Pura Kayangan Simpang lima desa Bangunrejo,Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan menuju halaman kantor camat dan berakhir di lokasi pemakaman dusun Trans Banyuwangi, Desa yang sama menjadi daya tarik bagi masyarakat.
Tontotan yang disaksikan setiap menyambut hari raya Nyepi tahun baru saka 1940 itu tidak dilewatkan oleh ribuan warga. Bahkan mereka mengikuti arak-arakan raksasa buta kala yang digelar mulai Jumat (16/3) pukul 17.00- 20.30 WIB di lokasi pembakaran  Dusun Trans Banyuwangi.

“Ini tontonan yang sangat menarik. Bahkan anak saya yang diajak nonton di halaman kantor camat sampai gak mau diajak pulang. Ngajak ikut sampai ogoh ohoh tersebut dibakar,” kata Herman (38) salah warga dari desa Sri Pendowo, kecamatan Ketapang yang menyaksikan pembakaran ogoh ogoh kepada Lampost.co, Jumat (17/3) malam. 
Arak arakan hingga pemusnahan raksasa jahat itu bertujuan untuk menghalau kehadiran buta kala saat umat sedharma menjalankan catur brata nyepi (puasa). Dimana raksasa buta kala merupakan manifestasi unsur-unsur negatif dalam kehidupan manusia. 



“Sehingga puasa yang dijalani umat sedharma selama 24 jam nanti bisa berjalan khusuk dan hikmat,” kata salah satu pemuka adat Banjar Pura Kayangan, Wayan Dogen.
Selama 24 jam, Sabtu (17/4/2018) pukul 00.00- Minggu (18/3/2018) pukul 00.00, umat sedharma akan menjalankan puasa berupa  Amati Geni (tidak menyalakan api serta tidak mengobarkan hawa nafsu), Amati karya (tidak melakukan kegiatan kerja jasmani melainkan meningkatkan kegiatan menyucikan rohani), Amati lelungan (tidak bepergian melainkan melakukan mawas diri) dan Amati lelanguan (tidak mengobarkan kesenangan melainkan melakukan pemusatan pikiran terhadap Ida Sanghyang Widhi).  

loading...

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR