Bandung (Lampost.co) -- Industri penerbangan Indonesia kembali berbangga. Setelah 22 tahun menunggu, akhirnya pesawat buatan anak negeri kembali mengudara. Dialah N-219, pesawat perintis yang dikembangkan anak negeri.

Pada 10 Agustus 1995 dunia tercengang dengan mengudaranya pesawat N-250 Gatot Kaca yang dirancang Presiden ketiga RI B.J. Habibie. Dan sehari menjelang HUT ke-72 kemerdekaan Indonesia kali ini, N-219 menjadi kado kecil yang cantik dari PT Dirgantara Indonesia dan Lapan. N-219 disebut sebagai generasi kedua N-250 yang sempat membanggakan Indonesia.

Purwarupa pesawat yang dirancang untuk 19 penumpang ini terbang perdana pukul 09.10 WIB di landasan pacu Bandara Husein Sastranegara Jalan Padjadjaran Nomor 154 Kota Bandung.

Selama 20 menit, pesawat ini meliuk-liuk di kawasan Batujajar dan Waduk Saguling. Pesawat ini lantas turun dengan mulus dan langsung mendapat tepuk tangan meriah serta ucapan syukur.

Uji coba penerbangan perdana ini disaksikan Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Agus Santoso, Dirut PT Dirgantara Indonesia (DI) Budi Santoso, dan seluruh jajaran Direksi dan Dewan Komisaris PT DI.

Rute terbang perdana N219. Foto: Flightradar24

Uji coba penerbangan ini dilakukan setelah purwarupa pesawat pertama N219 mendapatkan Certificate of Airworthiness dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasional Pesawat Udara Kementerian Perhubungan.
Purwarupa pesawat pertama N219 ini diterbangkan oleh pilot Kapten Esther Gayatri Saleh dan co-pilot Kapten Adi Budi Atmoko.

Selain itu, pada penerbangan perdana ini ikut serta Ir Yustinus K yang bertindak sebagai Flight Test Engineer untuk memastikan setiap tahapan pengujian terbang dilaksanakan dengan baik dan benar serta terjamin unsur keselamatannya.

Lama penerbangan perdana purwarupa pesawat pertama N219 dilakukan sekitar 20 menit dengan rute di kawasan Batujajar dan Waduk Saguling.

Rute perintis

Asisten Khusus Pengembangan Pesawat Terbang PT Dirgantara Indonesia (Persero) Andi Alisjahbana mengatakan Pesawat N219 dirancang untuk melayani penerbangan perintis di Indonesia seperti pada kawasan Pulau Papua dan Kalimantan.

"Ini pesawat kecil untuk 19 penumpang dan dirancang untuk kebutuhan Indonesia di penerbangan perintis," kata Andi Alisjahbana, di sela-sela uji coba penerbangan, seperti dilansir Antara.

Pesawat ini, menurut dia, juga dilengkapi dengan "avionic" yang canggih. "Salah satu yang itu avionic-nya, informasi navigsinya banyak sehingga bisa terbang di pedalaman seperti Papua dan Kalimantan," kata dia.

Pesawat N219 ini ditargetkan bisa memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, khususnya bagi kebutuhan transportasi udara di pedalaman. "Target utama konsumsi dalam negeri, kebutuhan bangsa Indonesia supaya lebih erat dan terjangkau," kata dia.

Ia menyatakan uji coba penerbangan pertama Purwarupa I Pesawat N219 ini menjadi tonggak sejarah bagi bangsa Indonesia.

"Bangsa yang bisa membuat dan merancang sendiri (pesawat) di Asia, mungkin hanya Jepang, Korea, China, dan Indonesia. Jadi, ini sejarah," kata dia.

EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR