SUKADANA (Lampost.co) -- Serangan hama tikus yang terus merajalela dan sulit di kendalikan di wilayah Kecamatan Sekampung,Lampung Timur membawa akibat yang cukup fatal bagi par petani. Pasalnya akibat serangan hama tersebut hasil panen padi petani diperkirakan semakin anjlok drastis dari sebelumnya.

Jika sebelumnya, pada Minggu lalu, akibat serangan hama pengerat ganas hasil panen padi petani berkurang 40%, kini terus bertambah hingga mencapai 65%.



Mulyono, salah seorang petani di Desa Sumbergede, Kecamatan Sekampung, Minggu (22/7/2018), kepada Lampost.co menjelaskan serangan hama tikus di wilayahnya termasuk di Desa Sumbergede, saat ini memang benar-benar sudah mengkhawatirkan.

Hama tikus tersebut kini seolah-olah sudah merubah pola serangan. Jika sebelumnya hama pengerat tersebut menyerang tanaman padi dengan intesitas yang masih bisa, namun kini pola serangannya berubah menjadi lebih cepat dan berlangsung setiap hari terutama pada malam hari.

Akibatnya, kata Mulyono, para petani menjadi kewalahan dan luas tanaman padi yang rusak semakin meluas di setiap petakan sawah akibar diserang hama tikus terus-menerus.

Dia mengatakan biasanya sawah petani jika tidak diserang hama, setiap panen bisa memperoleh hasil produksi sekitar 5 - 5,5 ton per hektare (ha). Dengan adanya serangan hama tikus yang semakin ganas tersebut, diperkirakan produksi panen padi petani semakin merosot karena tanaman padi mereka rusak.

Dia mengatakan saat serangan tikus masih pada tingkat biasa, diperkirakan panen petani merosot kisaran 40% atau turun 2 ton per ha dan masih bisa memanen hasil 3 ton padi per ha. Namun, karena serangan tikus semakin mengganas, sawah petani yang belum masuk masa panen, produksinya terus merosot hingga mencapai 65% atau panen padi turun 3,25 ton per ha. Sekarang hanya bisa memanen sekitar 1,75 ton per ha.

Baca Juga:

Tanaman Padi Puso Sisa Hama Tikus Dimanfaatkan Petani untuk Pakan Ternak

"Melihat kondisi serangan hama tikus yang semakin ganas dari hari ke hari, kami memperkirakan hasil panen akan terus bertambah terus. Apa boleh buat, kami memang rugi, tetapi mau gimana lagi,” kata Mulyono pasrah.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR