BUMI dan langit serta seisi Negara Bagian Rakhine, Myanmar, jadi saksi bisu. Sedikitnya 400 anak bangsa Rohingya, masyarakat muslim gugur dibantai junta militer Myanmar. Kekerasan meletus pada 25 Agustus lalu itu sebagian besar merenggut nyawa manusia lanjut usia. Anak-anak dan wanita pun tidak luput dari ajang pembantaian. Sangat biadab! 

Operasi pembersihan etnik ini juga memaksa 74 ribu warga sipil hengkang dari tanah kelahirannya. Mereka harus mengungsi ke negara tetangga, seperti Bangladesh, Malaysia, juga Indonesia, dengan menumpang perahu—mengarungi lautan luas.
Tragedi kemanusiaan etnik Rohingya memang bukan hal yang baru. Namun, pembantaian yang terjadi kali ini sangat tidak manusiawi, dan terburuk dalam sejarah Myanmar beberapa tahun terakhir.



Kebrutalan militer Myanmar itu dilaporkan Agence France-Presse (AFP). Wanita muslim Rohingya, seperti Ayamar Bagon (20) dan Hasinnar Baygon (20), adalah korban dari kebiadaban tentara Negeri Pagoda Emas.
"Mereka tahu saya hamil, tetapi tentara itu tidak peduli. Suami menyalahkan saya karena membiarkan hal itu terjadi. Lalu dia pergi dan menikah lagi dengan wanita lain," ujar Bagon yang kini melahirkan seorang bayi perempuan.  

Di tengah kehamilan sembilan bulan itu, Bagon mengaku ke suami bahwa dia sudah diperkosa tentara. Wanita muda itu menggantungkan hidup dari pemberian makanan dan uang tetangga. Kisah yang sama juga dialami  wanita muslim Rohingya bernama Baygon. Dia mengatakan suaminya pergi setelah Baygon diperkosa oleh tiga tentara Myanmar pada Desember lalu.

"Suami saya pergi meninggalkan saya. Dan menyalahkan saya karena tidak melarikan diri ketika hendak dinodai," kata Baygon.
Wanita ini ingin berontak, tetapi tidak berdaya karena tekanan tentara karena memiliki senjata. Militer itu secara bergiliran menodai Baygon di sebuah gubuk yang dijaga bergantian. Kisah wanita muslim Rohingya, Desa Kyar Gaung Taung, itu tidak menutup kemungkinan terjadi juga dengan muslimah lainnya.

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berkeyakinan kekerasan di Rakhine sudah menewaskan ratusan warga sipil.  Kyar Gaung Taung mengalami peristiwa paling brutal. Saksi mata mengatakan puluhan orang Rohingya dihabisi ketika tentara menyerbu desa. Namun, Pemerintah Myanmar menolak kalau disebut membunuh. Mereka melarang misi pencarian fakta Badan PBB masuk ke daerah konflik tersebut.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan Myanmar. Di negara itu terjadi bencana kemanusiaan, setelah menerima laporan bahwa  400 orang—mayoritas muslim Rohingya—tewas dibantai dalam sepekan. 
"Kami sangat prihatin dengan ekses selama operasi keamanan pasukan Myanmar di Rakhine,” ujar Guterres dalam pernyataannya di saat umat Islam sedang merayakan hari raya Iduladha, Jumat (1/9/2017). 

                          ***

Mengerikan! Dongkol, marah kepada serdadu Myanmar. Namun, pemerintah dan militer Negeri Zamrud Asia itu menutup mata dan telinga ketika dikecam, dihujat dunia agar mereka menghentikan operasi pembersihan etnik.

Paling tidak pantas adalah Aung San Suu Kyi. Wanita pejuang demokrasi itu tidak layak menerima hadiah Nobel Perdamaian. Harusnya pemimpin de facto Myanmar itu menyerukan dan menghentikan kekerasan manusia.

Aung menjadi sorotan internasional karena tidak mampu menghentikan kekejaman militernya. Bahkan Kepala Polisi Penjaga Perbatasan Rakhine, Brigadir Jenderal San Lwin, menuduh muslim Rohingya lah pertama kali menyerang pos polisi dan menewaskan12 petugas. Serangan balik dilancarkan pemerintah dalam operasi militer. Ratusan warga tidak berdosa menjadi sasaran empuk dari moncong senjata serdadu Myanmar.

Belakangan kelompok hak asasi manusia (HAM) membuka tabir, bahwa militer Myanmar yang memerkosa wanita Rohingya sebagai senjata perangnya dalam menghabisi etnik. Pembantaian massal itu dilaporkan merebak di Desa Chut Pyin, Myanmar barat. Kekerasan itu juga dipicu oleh lelaki muslim yang dituduh telah memerkosa perempuan Buddhis.

Tuduhan itu meningkatkan kebencian sehingga terjadi bentrok, yang berakhir kontak senjata. Ratusan warga Rohingya terkulai ditembus peluru panas militer. Masyarakat dunia, seperti Perhimpunan Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN), Organisasi Kerja Sama Negara-Negara Islam (OKI), dan PBB, harus menyuarakan penghentian tragedi kemanusiaan di Myanmar.

Bahkan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Zulkifli Hasan mengajak pemimpin negara-negara ASEAN mengembargo Myanmar. Kekerasan militer terhadap muslim di  negara nobel perdamaian itu adalah pelanggaran HAM.
Negara Barat saja bisa mengembargo Timur Tengah, Rusia, dan lainnya. “Kenapa tidak dicoba di ASEAN, kita mengembargo Myanmar," imbau politikus Partai Amanat Nasional (PAN) asal Lampung itu.

Persoalannya adalah Myanmar lebih dahulu memblokir semua badan bantuan PBB untuk memberikan pasokan makanan, air, dan obat-obatan kepada ribuan masyarakat sipil. Warga muslim Rohingya selalu berharap bantuan di tengah kampanye pembersihan etnik berdarah. Myanmar harus  diberikan pelajaran. Jika tidak, banyak korban bergelimpangan. Kekerasan ini memunculkan ketidakstabilan politik dan keamanan di Asia Tenggara.

Konflik berkepanjangan di Myanmar juga berdampak ke Indonesia. Negeri ini banyak menerima pengungsi Rohingya. Ketidakstabilan itu juga bisa menciptakan huru-hara di nusantara. Presiden Jokowi mengambil bagian agar bangsa ini tidak ikut terseret perbedaan yang disulut sentimen agama. Ingat! Warga yang dibantai di Rakhine, beragama Islam.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi berkunjung ke Myanmar, bertemu Aung San Suu Kyi melakukan diplomasi kemanusiaan untuk mengatasi krisis Rohingya. Muslim Indonesia wajib menggelar doa dan salat gaib untuk korban. Menggalang dana kemanusiaan untuk membantu pengungsi dan menyerukan perdamaian. Bukan ikut merusak negara ini. ***

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR