PEMBANGUNAN jalan tol bertujuan untuk memberi kenyamanan berkendara di jalur cepat tanpa hambatan. Sebab, jalan berbayar itu disediakan memang untuk meminimkan hambatan di perjalanan, salah satunya dengan tidak adanya persimpangan sebidang. Seperti Jalan Tol Trans-Sumatera (JTTS) yang baru diresmikan Presiden Joko Widodo pada 8 Maret 2019, sudah dapat dinikmati masyarakat per 9 Maret 2018.

Pengelola yang sementara ini memberi akses gratis di jalan itu, membuat masyarakat antusias mencobanya. Animo pengendara terlihat sangat tinggi untuk menggunakan jalan tol sebagai akses jalan cepat untuk mempersingkat waktu tempuh. Hal itu juga terbukti dengan timbulnya kemacetan dan antrean panjang yang beberapa kali terjadi. Kemacetan panjang sempat terjadi di ruas jalan tol menuju Terbanggibesar, Minggu (24/3/2019) sore. Karena jalan tol menuju Terbanggibesar ditutup, semua kendaraan akhirnya menumpuk di pintu tol Gunungsugih. Sore itu juga kemacetan panjang juga mewarnai pintu keluar gerbang tol Kotabaru di Jatiagung, Lampung Selatan.



Kendaraan mengular hingga simpang susun akibat padatnya arus kendaraan yang didominasi kendaraan pribadi. Hal tersebut terjadi karena banyaknya kendaraan dari berbagai arah yang akan keluar menuju Bandar Lampung. Gerbang tol Kotabaru merupakan satu-satunya pintu tol keluar yang dapat mengakses Bandar Lampung. Jika terjadi kemacetan seperti itu, sama saja keberadaan jalan tol tidak memberikan pilihan alternatif. Yakni sebagai fungsi jalan bebas hambatan untuk kendaraan bersumbu dua atau lebih (mobil, bus, truk).

Untuk membuat jalan tol sepanjang 140,9 km tersebut berfungsi ideal, maka pemerintah atau pengelola jalan tol harus bisa mengatur akses pada gerbang tol. Karena dari beberapa kemacetan yang terjadi, paling banyak disebabkan pertemuan arus kendaraan menuju dan dari jalan tol. Untuk diketahui tol JTTS memiliki 11 pintu tol, yakni Km 4+400 Bakauheni, Bakauheni Utara di Km 8+900, Kalianda di Km 27+300, Sidomulyo di Desa Sukamarga Km 38+850, Lematang di Km 74+350, Kotabaru di Km 78+600, Branti, Natar di Km 96+500, Tegineneng Timur di Km 108+590, Tegineneng Barat di Km 108+950, Gunungsugih di Km 130+560, dan pintu tol Terbanggibesar di Km 140+410. Dengan 11 pintu tol yang dimiliki JTTS tersebut, pemerintah atau instansi terkait bersama pihak pengelola hendaknya harus memahami dan hafal betul di mana titik-titik exit toll yang memiliki kepadatan arus kendaraan tinggi, jalan rusak, jalan sempit, atau lainnya dengan mencari solusi yang tepat sesuai kondisi titik temu arus exit toll ke jalan nasional.

Untuk sempurnanya fungsi itu, tentu pengelola harus menyiapkan solusi terbaik, salah satunya armada dan personel siaga 24 jam. Terutama untuk mobil mogok atau kecelakaan yang menjadi penyebab kemacetan di jalan tol. Jangan sampai ketiadaan solusi membuat fungsi ideal jalan bebas hambatan justru memperparah kemacetan jalan-jalan lainnya.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR