KALIANDA (Lampost.co) -- Dengan segala keterbatasan pengetahuan dan modal, tidak menyurutkannya untuk tetap menjalankan usaha ternak. 

Modal patungan bertiga serta banyak bertanya, akhirnya usaha ternak burung puyuh jenis blasteran bisa berjalan. 



Sebanyak 650 ekor bibit burung puyuh mereka beli seharga Rp3.500/ekor dipelihara di dalam kandang seluas 4 x 9 meter. Kapasitas kandang yang dimiliki untuk 3.500 ekor yang terletak disamping tempat tinggalnya. 

"Awal ternak hanya 650 ekor, karena keterbatasan modal dan pengetahuan," kata Gunawan peternak burung puyuh, Rabu (3/10/2018).

Warga Desa Seloretno, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, itu menceritakan awal mula beternak karena melihat teman yang sudah sukses usaha tersebut. 

"Ada kawan yang sudah berkecimpung dan sukses," kata dia. 

Usaha ternak itu, hampir tidak terealisasi karena terbatasnya modal. Untuk mencari tambahan modal, ia mengajak dua orang temannya untuk berkecimpung dalam usaha ternak. 

"Modal kurang, cari pinjaman sulit karena ternak belum jalan. Akhirnya kami patungan," ujarnya. 

Dijelaskannya, jika usaha yang mereka jalani bersama berjalan sesuai rencana, untuk mencari modal pinjaman pasti tidak sulit. 
"Kalau usahanya kelihatan, nyari modal pasti gampang, maka kami jalani dulu," ujar dia. 

Saat ini, burung puyuh sudah berusia sekitar satu bulan atau tahap belajar bertelur. Pada umumnya, burung puyuh bertelur setelah berusia 40 hari hingga usia 15 bulan. 
"Di usia 15 bulan produksi telur burung puyuh menurun," katanya. 

Setelah masuk masa bertelur, burung puyuh bisa menghasilkan 80% dari jumlah yang diternak. Saat ini harga telur burung puyuh dipasaran Rp25 ribu/kg. 

"Secara teori dan tidak ada kendala, beternak ini sangat menjanjikan," kata dia.

EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR