DI setiap awal tahun ajaran baru, setiap sekolah atau madrasah disibukkan dengan penerimaan peserta didik baru yang dilanjutkan dengan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS), masa orientasi peserta didik baru (MOPDB), atau masa taaruf siswa madrasah (matsama) yang sebelumnya dikenal dengan istilah masa orientasi siswa (MOS). MPLS/MOPDB/matsama merupakan kegiatan yang diselenggarakan satuan pendidikan formal di awal masuk sekolah bagi siswa baru untuk mengenal program, sarana-prasarana, cara belajar, penanaman konsep pengenalan diri, dan pembinaan awal kultur sekolah/madrasah.

Sesuai dengan Permendikbud No. 18 Tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah bagi Siswa Baru, materi masa pengenalan harus berkaitan dengan pengenalan visi-misi, program, cara belajar, tata tertib, fasilitas sekolah, simulasi penyelesaian masalah, etika dan sopan santun, serta pengenalan dan penumbuhkembangan akhlak dan karakter. Hal senada juga diatur dalam Keputusan Dirjen Pendis No. 361 tahun 2017 tentang Matsama untuk penyelenggara pendidikan di madrasah maupun pondok pesantren di bawah binaan Kementerian Agama.



Tanggal 16—19 Juli 2018 sebagian besar sekolah/madrasah di Tanah Air melaksanakan masa pengenalan bagi siswa baru. Masa pengenalan perlu mengedepankan semangat antiradikalisme, tanpa perpeloncoan, dan edukatif, sehingga dapat memberikan kesan positif dan mempersiapkan siswa belajar di sekolah/madrasah yang baru.

Semangat tanpa Kekerasan

Indonesia dibangun atas dasar keberagaman etnis, budaya, dan agama yang menjadi rujukan dan panutan bagi negara majemuk lain. Acap negara kita ternodai perilaku menyimpang oknum tertentu yang mengatasnamakan agama karena pemahaman yang keliru.

Hasil studi Setara Institute tahun 2016 di 171 sekolah di Jakarta dan Bandung menunjukkan 0,3% siswa SMA negeri terpapar ideologi terorisme dan 2,4% siswa mengembangkan sikap intoleransi aktif (Lampost), Rabu (6/6). Jumlah tersebut memang persentasenya kecil. Namun, jika tidak diantisipasi, dapat berkembang karena pelajar tingkat kematangannya masih labil dalam menyaring informasi di tengah cepatnya perkembangan informasi dan teknologi.

Guru perlu mengedukasi siswa baru tentang semangat antiradikalisme karena Indonesia adalah negara yang terdiri dari beragam suku, bangsa, dan agama. Nilai-nilai religius dapat diperkenalkan dengan perilaku nyata untuk meningkatkan amal ibadah, misalnya dengan mengaji dan salat duha.

Semangat jihad harus diarahkan ke hal-hal yang positif. Belajar yang sungguh-sungguh juga merupakan jihad nyata bagi pelajar. Nabi saw bersabda, “Siapa yang mendatangi masjidku (masjid Nabawi), lantas ia mendatanginya hanya untuk niatan baik, yaitu untuk belajar atau mengajarkan ilmu di sana, kedudukannya seperti mujahid di jalan Allah. Jika tujuannya tidak seperti itu, dia hanyalah seperti orang yang menilik-nilik barang lainnya (HR Ibnu Majah dan Ahmad).

Semangat antiradikalisme bagi siswa baru juga bisa dibangun dengan memberikan wawasan tentang peningkatan kesadaran bela negara dalam mewujudkan semangat persatuan dan toleransi dalam kemajemukan karena dengan perbedaan dapat saling mengisi kelemahan dan mengembangkan potensi yang lebih kuat.

Mendatangkan narasumber dari instansi terkait sangat dianjurkan agar siswa baru belajar langsung dengan orang yang ahli di bidangnya, misalnya materi bela negara dan latihan baris-berbaris oleh TNI, perilaku hidup bersih dan sehat oleh paramedis, kesadaran berlalu lintas oleh kepolisian, atau bahaya narkoba oleh BNN kabupaten/kota. Sekolah/madrasah juga dapat memberdayakan guru pembina ekskul tertentu untuk memberikan materi sesuai kebutuhan. Dengan demikian, kegiatan masa pengenalan sekolah/madrasah bagi siswa baru benar-benar terkesan, bermanfaat, dan menyenangkan.

Bijak Bermedsos

Radikalisme yang bisa muncul di kalangan pelajar tidak terlepas dari pengaruh perkembangan iptek karena siswa bisa belajar via internet. Jika tidak didampingi dan diberikan arahan, yang bersangkutan akan sepenuhnya menerima dan meyakini kebenaran informasi yang diperoleh tanpa kontrol dan bimbingan dari orang tua atau guru.

Jika kita boleh berkata jujur, anak zaman now lebih mengusai teknologi daripada orang tuanya. Bahkan, guru bisa kalah penguasaan teknologinya dibandingkan dengan muridnya. Sebab itu, dalam masa pengenalan lingkungan sekolah/madrasah, guru sebaiknya mengedukasi siswa agar bijak dalam menyaring berita dan meng-cross check informasi yang diterima dan membuat keputusan yang tepat tentang perlu-tidaknya menyebarkan informasi termasuk memberikan komentar.

Jika siswa baru tidak diedukasi tentang kehati-hatian dalam bermedia sosial, bisa dimungkinkan yang bersangkutan akan rentan melanggar UU No. 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik karena ketidaktahuan yang berakibat mendapatkan permasalahan hukum.

Libatkan Ekskul

Pemberian tugas tertentu yang tidak relevan dengan kegiatan pembelajaran sebaiknya ditiadakan. Atribut yang aneh-aneh justru memberikan kesan buruk terhadap sekolah/madrasah, karena hal tersebut dilarang dalam Permendikbud No. 18 Tahun 2016 dan Keputusan Dirjen Pendis No. 361 tahun 2017.

Peserta masa pengenalan cukup diberikan name tag (identitas nama) untuk memudahkan mengenal nama yang pembiayaannya bisa dari anggaran BOS. Prinsip masa pengenalan tanpa hukuman wajib dijalankan sehingga siswa merasa nyaman di sekolah/madrasah yang baru.

Guru yang diberikan tugas oleh kepala sekolah/kepala madrasah bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pelaksanaan kegiatan. Pelibatan kakak kelas, terutama pengurus OSIS, diperbolehkan dalam kapasitas yang terbatas dengan ketentuan maksimal dua orang per rombongan belajar, tidak memiliki sifat buruk, dan memiliki prestasi akademik serta nonakademik dan diawasi agar tidak terjadi perpeloncoan atau pemberian hukuman. Sesama siswa harus saling asah, asih, dan asuh.

Salah satu hal menarik yang dapat ditampilkan saat masa pengenalan adalah demonstrasi ekskul yang melibatkan berbagai ekskul yang ada. Hal ini diperlukan agar siswa baru mendapatkan inspirasi memilih kegiatan ekskul sesuai dengan minat dan bakatnya.

Sekolah/madrasah tertentu bahkan memfasilitasi tes potensi akademik dan atau tes analisis potensi sidik jari untuk mengetahui multiple intelligence sebagai bahan pertimbangan dalam mengetahui potensi otak kanan atau kiri, memilih jurusan dan mengetahui minat maupun bakatnya termasuk kegiatan ekskul atau gaya belajarnya. Demonstrasi ekskul merupakan implementasi dari belajar dari teman sejawat atau lebih dikenal dengan istilah peer learning karena siswa baru mendapatkan ilmu dari sesama siswa lain.

Peer learning atau belajar dengan teman sejawat akan sangat mengasyikkan karena siswa baru belajar langsung tanpa rasa takut dengan teman sejawatnya didampingi guru pembinanya. Menurut Dobos, Biggs, dan Brufee (1999) serta Boud (2001) dalam Livi Yohana dkk (2015), peer learning memiliki empat manfaat yaitu meningkatkan motivasi, sebagai outcome kognitif dan sosial dalam pembelajaran, meningkatkan rasa tanggung jawab seseorang atas upaya belajar, dan meningkatkan meta-kognitif yang memungkinkan siswa untuk lebih mencerminkan pengajaran dan pembelajaran mereka secara lebih kritis.

Kegiatan lomba bergengsi yang diselenggarakan Kemendikbud setiap tahun dari tingkat kabupaten/kota sampai nasional seperti O2N, O2SN, atau FLS2N termasuk Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah (Aksioma) dan Kompetisi Sains Madrasah (KSM) yang diselenggarakan Kementerian Agama dapat ditumbuhkembangkan dengan baik jika ekskul yang ada di sekolah/madrasah berkaitan dengan lomba-lomba di atas yang cikal-bakalnya berasal dari ketertarikan siswa baru dalam memilih kegiatan ekskul baik yang akademik maupun yang nonakademik. 

Mari kita sambut siswa baru dengan penuh keramahan, cinta, dan kasih sayang dengan melaksanakan masa pengenalan yang mengedukasi semangat antiradikalisme tanpa perpeloncoan. Sebab, belajar di sekolah atau madrasah sesungguhnya adalah salah satu implementasi dari semangat jihad yaitu mencari ilmu. Sekolah/madrasah yang menyelenggarakan masa pengenalan dengan kegiatan edukatif dan menyenangkan berarti telah menjalankan pendidikan berkarakter yang diamanatkan pemerintah.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR