KALIANDA (Lampost.co) -- Siang di akhir Juli 2018, cahaya matahari mengeluarkan panas yang sangat menyengat. Sebagian sawah di sepanjang jalan lintas pantai timur kecamatan Ketapang, Lampung Selatan mengering. Petak-petak sawah dengan tanaman padi yang berumur sekitar 15-30 hari, berubah menjadi hamparan tanah keras berwarna putih.

Kekeringan yang mulai mengancam tanaman padi, membuat para petani di Pesisir Timur desa Bangunrejo, kecamatan Ketapang menempuh berbagai cara untuk mendapatkan pasokan air walau merogoh kocek hingga jutaan rupiah. 



Seperti yang dilakoni oleh Rohadi (56) salah seorang petani desa setempat. Ia mengaku menghabiskan dana sebanyak Rp1,2 juta untuk menolong tanamannya seluas 1 hektare dari ancaman kekeringan. Uang tersebut untuk sewa mesin pompa air, BBM mesin dan lainnya. 

Aliran air di desa Sidoasih kecamatan Ketapang, Lamsel, nampak mengering, sementara sawah radah hujan diawkitar lokasi tersenut mulai kekeringan, Selasa (32/7/2018). Lampost.co/Aan kridolakaono.

“Setidaknya butuh waktu 3 hari agar tanaman padi digenangi air,” kata Rohadi saat sedang berada di sawah jalinpantim desa Kecamatan Ketapang, Selasa (31/7/2018).

Jika hujan tak kunjung datang hingga tiga minggu kedepan ia akan kembali merogoh kocek untuk menyedot air dari aliran sungai atau embung yang ada di sekitar areal persawahan. 

“Kalau aliran sungai atau embung juga kering. Jalan satu satunya adalah beli air dari sumur bor milik mereka,” ujarnya kepada Lampost.co. 

Kegelisahan akan ancaman kekeringan pun merembet ke sejumlah petani di pesisir timur kabupaten Lampung Selatan.

“Sekarang air di aliran sungai hampir mengering, sehingga nyaris tidak ada harapan lagi bagi untuk menolong tanaman dari kekurangan air,  kecuali turun hujan,“ ujar Nanung, petani di jalinpantim desa Way Sidomukti, kecamatan Ketapang.

 

EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR