ANAK-anak adalah tumpuan masa depan bangsa. Namun, bagaimana jika anak-anak yang seharusnya dilindungi negara justru dilacurkan? Betapa biadab mereka yang menjalankan bisnis ini.

Baru-baru ini jajaran Polsek Raman Utara, Lampung Timur, mengungkap kasus prostitusi anak di bawah umur. Dua tersangka yang menjadi muncikari telah ditangkap. Adapun tiga anak yang menjadi korban merupakan pelajar di Lamtim, dua anak berusia 16 tahun dan satu anak usia 15 tahun.



Kasus prostitusi anak di Lampung bukan hanya di Raman Utara. Desember 2018, Polres Metro membekuk dua warga Punggur, Lampung Tengah, yakni LR dan H, yang bertindak sebagai muncikari prostitusi online. Ada enam anak yang diduga dijajakan secara online.

Penetrasi internet yang kian masif turut menjadikan bisnis terlarang ini makin diminati. Begitu marak situs dan aplikasi prostitusi online mudah diakses. Para muncikari juga kian berani merekrut anak-anak untuk dilacurkan.

Media sosial juga memainkan peran penting dalam bisnis prostitusi. Meskipun lokalisasi banyak ditutup, faktanya lokalisasi berpindah ke dunia maya. Para muncikari leluasa memperdagangkan orang.

Butuh kerja sama semua pihak menghadapi perubahan pola prostitusi ini. Pemerintah, penegak hukum, dan orang tua harus saling bekerja sama mencegah sejak dini. Anak sebagai penerus bangsa  harus diselamatkan dari lembah prostitusi.

Para pelaku prostitusi anak dapat dijerat dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Selain itu, ada UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang bisa dipakai untuk menjerat para muncikari dan pengguna jasa.

Aparat penegak hukum diharapkan tidak pernah kendur membongkar prostitusi anak. Jangan sampai ada korban yang justru sungkan melaporkan kasus yang menimpanya. Bisnis biadab ini harus diberantas hingga ke akar-akarnya.

Polri memiliki instrumen Cyber Crime untuk mengawasi prostitusi online. Patroli siber harus lebih intensif.

Para pelaku prostitusi anak dan pengguna jasa pun harus dihukum maksimal untuk menimbulkan efek jera.

Pemerintah bisa meniru langkah Swedia untuk menekan bisnis prostitusi yakni dengan menghukum berat para pengguna jasa prostitusi. Di Tanah Air, para pengguna prostitusi online seperti tidak tersentuh dan akhirnya dilepaskan polisi karena belum ada dasar hukum untuk menjerat mereka.  

Dalam menangani kasus prostitusi anak, peran orang tua, dan masyarakat juga tidak kalah penting. Keluarga harus memberi edukasi dan mengawasi agar anak-anak terhindar dari dampak negatif teknologi. Sama seperti narkoba, prostitusi anak juga menjadi musuh bersama karena akan menjadi bencana bagi para generasi penerus bangsa.

loading...

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR