HARI ini, Rabu, 17 April 2019, merupakan hari gembira. Gembira karena seluruh rakyat pemilih akan menyalurkan hak politik mereka dalam pemilu legislatif dan pemilihan presiden secara serentak.

Hak politik itu tidak datang secara tiba-tiba. Perlu ratusan tahun bagi para bapak bangsa dan pejuang Republik untuk merebutnya dari tangan pemerintah kolonial. Perjuangan yang menguras darah, keringat, air mata, dan ribuan nyawa. Itu sebabnya, salah satu esensi pemilu adalah merayakan kemerdekaan dan mensyukuri kebebasan. Merdeka dari rasa takut, merdeka dari intimidasi, dan bebas memilih calon masing-masing yang dianggap terbaik.



Karena itu pula, pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya atau golput sering disebut tidak mensyukuri nikmat kemerdekaan. Tidak semua manusia di dunia ini diberi nikmat kebebasan dalam menyalurkan pilihan politiknya.

Hasil akhir Pemilu 2019 ini akan ditentukan hampir 200 juta pemilih, tepatnya 194.952.539 pemilih terdiri dari 192.866.254 pemilih dalam negeri dan 2.086.285 pemilih WNI yang berdomisili di luar negeri. Merekalah yang akan menentukan siapa yang berhak duduk di kursi legislatif dan penghuni Istana Presiden.

Bagi peserta pemilu, hari ini adalah hari penentuan atas kerja politik yang telah dilakukan. Seberapa besar suara yang diperoleh jelas ditentukan dari seberapa serius calon melakukan kerja politik, memahami kehendak konstituen, dan mendengarkan hati nurani mereka. Inilah hari yang menentukan apakah calon dapat merawat dan menjaga jaringan konstituen yang telah dibina selama ini. Merebut hati rakyat memang tidak semudah membalik telapak tangan. Semua perlu proses, perlu waktu, perlu tenaga, dan tentu saja perlu biaya.

Bagi lembaga penyelenggara, hajat politik pemilu merupakan pekerjaan besar. Negara mengguyur anggaran hingga Rp25 triliun untuk kepentingan politik terbesar ini. Tidak sembarang orang mendapat kehormatan terpilih sebagai panitia pemilu. Perlu orang-orang yang memiliki pemahaman mendalam di bidang peraturan kepemiluan serta bebas dari segala kepentingan individu per individu para peserta pemilu. Netralitas dan independensi itulah ciri kerja penyelenggara pemilu yang profesional dan integritas pribadi yang menjadi mahkotanya.

Mengabaikan netralitas, independensi, dan integritas berarti telah mengkhianati profesionalisme. Bukan cuma itu, juga meracuni demokrasi serta menghancurkan kegembiraan jutaan rakyat pemilih. Jika suara rakyat adalah suara Tuhan, maka pengingkaran terhadap profesionalisme penyelenggara yang berdampak mengubah hasil pemilu dapatlah disebut telah melawan kehendak Tuhan.

Kita berharap Pemilu 2019 berjalan dengan baik yang ditandai dari tingginya partisipasi pemilih. Juga berlangsung dengan jujur, adil, aman, damai, sejuk, tanpa diwarnai konflik sebelum, selama, dan setelah pemungutan suara. Semoga Pemilu 2019 akan melahirkan para wakil rakyat dan pemimpin yang amanah. Selamat memilih...

 

loading...

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR