ALHAMDULILLAH, kita bertemu lagi dengan Ramadan tahun ini. Bulan yang penuh keberkahan dan berlimpahnya kebaikan itu amat ditunggu-tunggu umat muslim di dunia, tak terkecuali di Bumi Ruwa Jurai ini.

Setiap orang yang menjalankan ibadah puasa Ramadan berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan, karena pahalanya berlipat-lipat. Sebetulnya sih berbuat kebaikan itu tak hanya menunggu Ramadan saja, tapi harus dilakukan setiap saat. Soal ganjarannya pun tak perlu kita sibuk menghitungnya, biarlah malaikat pencatat yang melaksanakan tugasnya.



Ramadan yang artinya kita berpuasa menahan segala hawa nafsu, selain haus dan lapar, mampu melatih kita untuk menjadi pribadi yang baik dan insan peduli sesama. Namun, kenyataannya sehari sebelum Ramadan atau yang disebut perepekan, suasana di pasar jauh lebih ramai dari hari biasa. Tak cuma pembeli, pedagang juga tumpah ruah di pasar, menjual aneka kebutuhan menyambut puasa, mulai dari bahan takjil hingga daging sapi dan ayam dadakan.

Masyarakat yang harusnya mampu mengendalikan hawa nafsunya berpolah konsumtif malah menjadi sebaliknya. Memborong aneka jenis makanan dan keperluan lainnya. Yang tak ada pun diada-adakan. Harga daging mahal pun tetap dibelinya. Alasannya sih wajar, pertama puasa harus dijamu makanan penggugah selera saat sahur dan kebutuhan gizi yang optimal.

Begitu juga saat berbuka. Sejak siang hari sudah memikirkan apa saja yang akan disajikan untuk berbuka, mulai dari kolak, es buah, kurma, kue basah, aneka goregnan, hingga makanan berat. Padahal, begitu waktu berbuka, seteguk air dan beberapa butir kurma sudah mampu menghilangkan dahaga dan lapar setelah lebih dari 12 jam berpuasa. Lagi-lagi polah mubazir terjadi.

Melihat kebiasaan pola konsumsi dan menu untuk berbuka menjadi banyak ragamnya dan sangat spesial, sementara di luar bulan Ramadan umumnya hanya menyajikan menu standar, ini membuat bergesernya esensi puasa yakni membentuk pribadi muslim yang lebih ekonomis malah tidak terwujud.

Ya, esensinya puasa itu membuat kita lebih irit dalam pengeluaran, bukan malah semakin boros karena polah kita di atas tadi. Nah, mungkin ada baiknya mulai puasa kali ini kita bisa lebih mampu memanajemen diri untuk menghilangkan pola lapar mata dan mulai menyesuaikan dengan kebutuhan, bukan keinginan.

Sebab, puasa adalah metode pelatihan yang harus dipraktikkan untuk memahami keseluruhan proses dari tindakan dalam puasa dengan mengelola segala keinginan. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan bagi yang menjalaninya. Semoga puasa kita makin khusyuk.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR