TAHAPAN pendaftaran calon presiden dan wakil presiden telah selesai. Dua pasang calon maju dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019, Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin bersaing dengan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Persaingan dua pasangan ini diharapkan minim provokasi, selamat datang Pilpres yang seju

Harapan hadirnya Pilpres sejuk itu menguji dua asumsi. Pertama, dengan majunya Ma'ruf Amin peluang provokasi politik identitas dengan mengeksploitasi isu agama jadi tertutup. Provokasi dengan isu agama tersebut sebelumnya dilakukan antara lain dengan menuding pemerintahan Jokowi anti-Islam dan antiulama.



Dengan dipilihnya oleh Jokowi KH Ma'ruf Amin, yang ketua umum Majelis Ulama Indonesia juga Rois Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU), sekaligus menutup peluang provokasi isu agama dimaksud.

Kalau provokasi coba dipaksakan lewat mempertajam perbedaan mazhab, karena perbedaan tersebut sudah lazim dan diketahui publik sejak dahulu, pengaruhnya untuk menyulut gesekan massa amat kecil. Masyarakat sudah merasa biasa dengan perbedaan mazhab tersebut sehingga kalau dimainkan juga akan sia-sia, asyik merasa hebat sendiri.

Asumsi kedua, sesuai sindiran Andi Arief saat Wasekjen Partai Demokrat menolak Sandiaga Uno sebagai cawapres, kekuatan uang Sandiaga yang menjadi penentu terpilihnya ia sebagai cawapres. Pengujian asumsi ini adalah apakah benar dengan logistik yang besar alias uang berkardus-kardus akan bisa memenangi pilpres?

Bagaimanapun hasil akhirnya nanti, andalan pada logistik uang yang besar memenangi kontestasi jelas mendukung terciptanya Pilpres yang sejuk. Karena, andalannya bukan lagi pada provokasi atau sejenisnya, hal-hal yang bersifat permainan kasar.

Artinya, untuk apa tegang berprovokasi atau ngotot dengan permainan kasar, kalau dengan uang yang banyak semua bisa diselesaikan. Pilpres yang sejuk pun tercipta sebagai bagian dari prosesnya.

Pemilu sejuk bisa tercipta jika kampanye pemilu digunakan untuk unjuk kebolehan program terbaik memajukan masyarakat, negara, dan bangsa. Bukan malah membuang energi untuk mencaci maki dan mengobral fitnah terhadap lawan bertanding. Rakyat telah semakin dewasa untuk menilai mana program yang paling baik dan bisa diimplementasikan. Kalau sekadar indah tapi tidak aplikatif, tidak berbeda dengan fiktif.

Kedua pasang calon punya potensi untuk kampanye adu program, bukan provokasi atau adu otot. Selamat datang Pilpres sejuk.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR