JAKARTA (Lampost.co)--Kisah nyata sekolah khusus kaum dhuafa dan anak yatim piatu, sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI), diangkat ke layar lebar dengan judul film" Say I Love You".

Pembuatan film dari sekolah yang didirikan Julianto Eka Putra ini mendapat dukungan penuh  PT Harmoni Dinamik Indonesia (HDI).



HDI merupakan perusahaan social network marketing dimana Julianto Eka Putra bergabung sebagai Top Leader. 
"Kami bangga berada di sisinya saat berusaha mewujudkan mimpi, dan kami bangga membagikan kisahnya ke hadapan Anda,” ungkap Brandon Chia, CEO PT HDI saat peluncuran soundtrack film Say I Love You di Jakarta, Rabu (19/6).
Menurut Julianto, Film ini menggambarkan generasi milenial yang ulet dan gigih, meskipun berlatar belakang keluarga tidak mampu, bahkan beberapa di antaranya tidak punya orang tua dan keluarga. 
"Mereka harus berjuang sangat keras melewati rintangan untuk sampai di posisi mereka sekarang ini," katanya. 
Julianto Eka Putra mengakui banyak hal baru dicapai SMA Selamat Pagi Indonesia (SMA SPI) seusai menerima penghargaan Kick Andy Heroes 2018 tahun lalu.
SMA SPI khusus merekrut ratusan siswa dari kalangan tidak mampu di seluruh Indonesia untuk diberi pendidikan gratis, sekaligus dibekali keahlian (life-skill) menjadi pengusaha yang independen. 
Film Say I Love You disutradarai Faozan Rizal (sebelumnya Habibie - Ainun) dan dibintangi Aldi Maldini, Dinda Hauw, Rachel Amanda, Verdi Solaiman, Teuku Rifnu Wikana, Butet Kartaredjasa, Olga Lydia dan bintang-bintang lainnya. 

Film ini akan menghiasi layar perak Indonesia, mulai 4 Juli 2019 dan diharap mampu menghibur dan menginspirasi penonton Indonesia di masa liburan sekolah tahun ini.

Menurut Brandon, sejak Julianto mengonseptualisasi impiannya mendirikan sekolah untuk kalangan tidak mampu ini, HDI selalu berada di sampingnya untuk memberi dukungan awal bagi Julianto.

Julianto mengakui mendirikan SMA SPI bukan jalan yang tidak berliku dan berbatu. Saat memulai SMA SPI, Julianto mengalihkan fokus karir dan waktunya sebagai pengusaha dan salah satu top leader HDI di Indonesia, ke arah baru, yaitu SMA SPI ini.

Keputusan kontroversial ini mendapat tentangan, bahkan dari istrinya. Namun, sebaliknya mendapat dukungan penuh dari HDI, termasuk saat membeli 4 ha tanah, tempat SMA SPI akhirnya didirikan.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR