MENDIRIKAN Sekolah Kopi seperti yang diresmikan Gubernur Lampung Arinal Djunaidi saat Festival Kopi di Lampung Barat menjadi langkah yang benar untuk meningkatkan produktivitas tanaman kopi dan meningkatkan kesejahteraan petani kopi. Juga tepat, menjadikan Vietnam sebagai bandingan (benchmark) produktivitas kopi. 

Mendirikan Sekolah Kopi untuk peningkatan perannya dalam memajukan perekonomian nasional merupakan salah satu rekomendasi Kementerian Koordinator Perekonomian tahun lalu. Itu diungkap Menko Perekonomian Darmin Nasution saat meluncurkan buku peta jalan kopi berjudul Arah Kebijakan Kopi Indonesia Menghadapi Tantangan Kompetisi, Perubahan Iklim, dan Kondisi Kopi Dunia. (Kompas.com, 27/4/2018) 



Direkomendasikan, strategi jangka panjang mengembangkan keahlian para petani kopi agar bisa berdampak lebih baik terhadap hasil panen. Dengan mendirikan SMK Kopi, nantinya secara bertahap selama lima tahun produktivitas bisa meningkat dua kali lipat. Kurikulum Sekolah Kopi dari hulu hingga ke hilir, dari tanam hingga industri.
Karena itu, tekad Gubernur Arinal untuk meningkatkan produktivitas kopi Lampung dengan standar perbandingan produktivitas kopi di Vietnam cukup tepat. Khususnya karena produksi kopi Lampung dan Vietnam sama-sama robusta, dan Vietnam merupakan produsen kopi robusta terbesar di dunia. 

Vietnam dengan lahan tanaman kopi seluas 630.000 hektare, produksinya mencapai 1,55 juta ton (2017) atau rata-rata 2,7 ton per hektare/tahun. Sedangkan Indonesia, dengan lahan kopi seluas 1,3 juta hektare, produksinya menurut AEKI 630.000 ton atau rata-rata 500 kg per hektare/tahun. 

Menurut Wikipedia, kopi diperkenalkan di Vietnam oleh bangsa Prancis pada tahun 1857, ketika menjajah negeri tersebut, sehingga awalnya industri kopi Vietnam berkembang melalui sistem perkebunan. Namun tanaman kopi sempat hancur akibat perang panjang mengusir tentara Amerika hingga angkat kaki 1975. Tanaman kopi berkembang lagi didorong reformasi ekonomi Doi Moi, mencapai 900.000 ton pada tahun 2000. Dan terus naik tajam setiap tahun.

Untuk Lampung, karena hasil pendidikan perlu waktu relatif jangka panjang, maka canangan Gubernur meningkatkan produktivitas kopi lewat program intensifikasi dan ekstensifikasi perlu disegerakan. Untuk program intensifikasi, kerja sama Pemprov dengan Nestle yang telah berhasil meningkatkan produktivitas sebagian petani hingga satu ton per hektare/tahun layak dilanjutkan dan diperluas.

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR