BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan Persatuan Gruru Republik Indonesia (PGRI) SMK PGRI 1 Bandar Lampung berpolemik masalah internal mengakibatkan siswa-siswi peserta didiknya pindah kesekolah lain. SMK tersebut juga minim siswa dan akan dijual kepada pihak lain.

Seperti yang disampaikan oleh Dwi Saputra (DS) siswa asal SMK PGRI 1 Bandar Lampung yang pindah sekolah di SMA Muhammadiyah 1 Bandar Lampung. Ia mengatakan dirinya bersama teman-temannya pindah sekolah karena merasah sudah tidak nyaman disekolah tersebut. Ia mendapat informasi bahwa sekolah tersebut berkonflik dan akan dijual kepada pihak lain.



"Ada 10 orang yang pindah sekolah ke SMA Muhammadiyah ini. Kelas 11 ada 5 orang dan kelas 12 ada 5 orang," katanya saat di temui di SMA Muhammadiyah 1 Bandar Lampung Jalan, Wolter Mongensidi, Gg Kutilang, Kamis (25/7/2019).

Namun dirinya bersama teman-temannya merasa kebingungab karena belum mendapatkan surat pindah dari sekolah yang lama. Dirinyapun khawatir tidak bisa mengikuti ujian nasional karena belum terdaftar di Data Pokok Peserta Didik (DAPODIK) disekolah yang baru. Ia menilai pihak sekolah yang lama mempersulit surat-surat kepindahannya kesekolah yang lama.

"Kepsek SMK PGRI marah-marahin kita sampe gebrak meja, mereka melarang kami pindah sekolah. Mau balik kesekolah yang lama, kita malu karena sudah dibentak bentak sekolah. Kemudian disuruh bayar apabila mau pindah," kata Warga Jalan Antasari, Kedamaian ini.

Ia menceritakan apabila ingin pindah, pihak SMK PGRI meminta uang untuk membayar uang PKL sebesar Rp. 550 ribu/siswa, uang LKS sebesar Rp. 100 ribu/siswa, surat pindah Rp. 200 ribu/siswa. Selain itu dirinya diminta untuk melunasi uang SPP sejak Januari sampai Juli, uang SPP tersebut sebesar Rp140 ribu/bulan/siswa.

"Kami mau bayar tapi gak punya uang. Kami anak orang yang tak berpunya. Kita pinginya pindah sekolah dan jangan dipersulit mengurus surat pindahnya. Kalau kami disuruh melunasi semuanya, kami tidak sanggup. Sementara sekolah di sini SMA Muhammadiyah ini gratis," tutupnya.
 

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR