BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Lampung menjadi sorotan para calon legislatif yang melenggang di Pemilu 2019.

Dalam acara yang digelar BEM U KBM Unila, Ngobrol Bareng Caleg di gedung D.3.1 Fisip Unila, Sabtu (16/3/2019) beberapa caleg menyampaikan gagasannya. 



IPM tidak terlepas dari peran serta masyarakat khususnya generasi millineal. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2016, menyatakan bahwa IPM Lampung telah mencapai 67,65. Angka ini meningkat sebesar 0,70 poin dibandingkan dengan IPM Lampung pada tahun 2015 yang sebesar 66,95.

Dalam diskusi kali ini Calon Legislatif berasal dari berbagai macam fraksi, yakni Nasdem yang saat ini diwakili oleh Taufik Basari, Fraksi Golkar oleh Erwin Eka Kurniawan, Fraksi PKS oleh bDetti Febrina, Fraksi PAN diwakili oleh Edi Agus Yanto, Fraksi PKB diwakili Muhammad Kadafi.

Menilik tiga fungsi legislatif yakni, fungsi penganggaran, pengawasan (Monitoring eksekutif) dan fungsi membuat rancangan Undang-Undang. Pada diskusi kali ini lebih menekankan pada kemampuan yang dimiliki oleh lembaga legislatif untuk mengawal pembuatan RUU yang mampu meningkatakan IPM khususnya di Provinsi Lampung.

Adu argumentasi terkait Indeks Pembangunan Manusia pun dipaparkan oleh masing-masing calon legislatif provinsi Lampung. Mengupas arah pemikiran para calon wakil rakyat nampak menarik dengan berbagai visi yang dibawa oleh masing-masing calon legislatif dengan berbagai macam latar belakang yang berbeda. Berbagai gagasan pengembangan lapangan pekerjaan bagi masyarakat khususnya di Provinsi Lampung ditawarkan baik dari segi, sosial budaya dan ekonomi.

“Provinsi lampung merupakan salah satu provinsi yang memiliki tingkat potensi wisata yang tinggi, dan saat ini belum dikembangkan secara maksimal sehingga menjadi PR kita kedepan," papar Taufik Basari saat ditanya pendapatnya terkait upaya pengembangan IPM di Provinsi Lampung.

Diakhir acara,  Edi Agus Yanto, berharap calon-calon yang terpilih mampu bergerak bersama masyarakat. Memahami karakter dan permasalahan masyarakat sehingga mampu membuat kebijakan yang menyelesaikan permasalahan rakyat. 

Beliau berpesan bahwa acara semisal dapat digelar dalam ruang lingkup yang lebih luas lagi tidak hanya terbatas pada area kampus melainkan desa/kecamatan sehingga mampu mengundang aparatur-aparatur desa terkait. 

Suparman Arif selaku moderator menyatakan, berbicara terkait IPM tidak dapat terlepas dari peran dunia pendidikan yang harus terus dikembangkan.

 

BERITA LAINNYA


EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR