TERINGAT penggalan satu riwayat, dikisahkan ketika Rasulullah Muhammad saw mengimami salat berjemaah, para sahabat terdengar bunyi yang aneh. Bunyi gemeretuk seperti sendi-sendi tulang Sang Kekasih Allah bergesekan.

Para sahabat pun bertanya-tanya ada apa? Akhirnya, sahabat Umar bin Khattab ra memberanikan diri bertanya, "Ya, Rasulullah, mengapa setiap kali Baginda menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi-sendi tubuh Baginda saling bergesekan? Kami yakin Baginda sedang sakit."



Umar terus mendesak penuh cemas. Sahabat lainnya pun menampakkan raut penasaran. Akhirnya, Rasulullah pun mengangkat jubahnya. Para sahabat terkejut ketika mendapati perut Al Amin yang kempis tengah dililit sehelai kain berisi batu kerikil penahan rasa lapar. Ternyata, batu-batu itu yang menimbulkan bunyi aneh tiap kali tubuh Rasulullah saw bergerak.

Para sahabat menanggapinya dengan berkata, "Ya, Rasulullah, adakah bila Baginda menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan mencarikannya untuk Tuan?"

Utusan Allah itu pun menjawab dengan lembut, "Tidak, para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan kalian korbankan demi Rasulmu. Tetapi, apa jawabanku nanti di hadapan Allah apabila aku sebagai pemimpin menjadi beban bagi umatnya?"

Teladan ini harus dijadikan pijakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Tidak hanya sekali kisah seikat batu penahan lapar itu. Sesaat Rasul akhir zaman hendak wafat, dia meminta para sahabat berkumpul dan memberi pengumuman.

"Siapa pun di antara kalian yang mempunyai utang-piutang, ganjalan, dan merasa pernah diperlakukan tidak baik dariku baik sengaja ataupun tidak, silakan tagihlah kini."

Begitu kira-kira pengumuman orang paling mulia itu. Salah satu sahabat menunjukkan jarinya, "Saya, ya Rasulullah!"

Singkat cerita, akhirnya Rasulullah mengikuti kemauan sahabat itu dengan membuka jubahnya untuk dibayar pukulan cemeti. Saat itulah tampak seikat kain berisi batu mengganjal perutnya. Namun, bukannya membalas, sahabat bernama Akasyah justru memeluknya. 

Inilah contoh Rasulullah dalam memimpin umatnya. Dengan perut lapar, beliau tetap memberi keadilan. Apakah mampu para pemimpin umat, organisasi, perusahaan, bangsa, dan negara di dunia mencontohnya. Rasulullah tidak pernah menyuruh umatnya untuk menahan lapar, tetapi dia lebih dulu mencontohkannya. 

Bukannya justru sebaliknya, seperti pemimpin di dunia kebanyakan kini yang meminta umat prihatin sembari santai bergelimang pangan dan sandang. Akhirnya, datang azab, salah satunya melalui tangan KPK. Astagfirullah.

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR