BEBERAPA saat lagi umat Islam akan merayakan Lebaran setelah selama bulan Ramadan menjalani ibadah puasa. Dengan berpuasa akan membawa banyak hikmah, termasuk hikmah kesehatan, baik sehat jasmani, rohani, maupun sosial. Sebagaimana firman Allah swt yang artinya: “Dan hendaknya kamu berpuasa karena puasa itu lebih baik bagi kamu”. Dan ada sebuah hadis meskipun masih diperdebatkan kesahihannya, yang mempunyai makna: “Berpuasalah, niscaya kamu menjadi sehat”. 

Bulan penuh rahmat, magfirah, dan kesucian ini ditutup dengan hari Idulfitri pada 1 Syawal atau Lebaran. Usai menjalani puasa selama sebulan penuh, kini waktunya bersama-sama merayakan hari kemenangan.



Setelah selama sebulan berpuasa, tepat pada Lebaran, pola makan berubah drastis dan cenderung kurang sehat. Setelah mampu menahan diri, ketika begitu banyak makanan tersaji membuat kita terkadang menjadi lupa diri. Hidangan Lebaran seolah- olah memang disuguhkan guna membayar waktu-waktu tanpa sarapan dan makan siang, saat berpuasa.

Jangan heran, jika setelah Lebaran para dokter makin banyak pasiennya. Seminggu sesudah Lebaran, akan banyak pasien mengunjungi rumah sakit dengan keluhan yang hampir sama. Penyakit yang muncul beberapa hari setelah puasa usai, yaitu sembelit diakibatkan konsumsi sayur dan buah yang rendah. Adanya gangguan pencernaan akibat makan berlebihan atau tidak membatasi konsumsi makanan pedas dan asam.

Kemudian, tekanan darah naik karena konsumsi minuman dan makanan yang mengandung natrium berupa penyedap atau garam yang tinggi. Mengonsumsi makanan dengan kadar kolesterol tinggi, akan menyebabkan peningkatan kolesterol darah. Kadar gula darah naik disebabkan konsumsi makanan dengan tinggi sumber karbohidrat sederhana.     

Makan enak saat Lebaran seolah-olah sudah menjadi salah satu agenda wajib. Meskipun untuk yang sedang menjaga berat badan dan mempunyai penyakit tertentu, harus tetap memperhatikan pola makan. Untuk itu, mari jadikan Lebaran menjadi momen tepat untuk saling bermaafan, sekaligus berbagi kiat sehat dengan keluarga. Apa yang harus diperhatikan agar semua bisa tetap sehat selama dan sesudah perayaan Lebaran?

 

Karbohidrat dan Lemak

Lebaran adalah hari yang identik dengan sajian makanan yang kaya akan lemak, bersantan, dan manis. Dalam artian, makanan yang jika dikonsumsi secara berlebihan bisa memicu berbagai macam penyakit.

Coba amati menu yang disajikan, setelah Ramadan berakhir. Momen berkumpul dengan bersilaturahmi bersama keluarga itu senantiasa disemarakkan dengan lauk-pauk, kue, dan minuman yang enak. Mulai dari ketupat Lebaran, opor ayam, rendang, sambal goreng hati, gulai, telur balado, ditambah sayur labu siam.

Adapun minuman yang hampir selalu ada, yaitu sirop, minuman bersoda (soft drink), teh manis, dan terkadang milk shake. Tidak ketinggalan camilan berupa kue kering, seperti kastengel, putri salju, dan nastar. Sebagian besar kue Lebaran mengandung susu, keju, dan cokelat di samping bahan utamanya terigu, gula, telur, ataupun mentega.

Hampir semua makanan tersebut mengandung kalori tinggi sehingga jumlahnya harus dibatasi supaya seseorang tetap sehat. Sebab, hidangan Lebaran tinggi kolesterol dan gula, bagi yang mempunyai masalah kolesterol ataupun gula, akan merasa sedih. Rasanya sayang kalau tidak menikmatinya. Apalagi jika itu membuat harus menolak berbagai hidangan yang disiapkan tuan rumah. Tentu saja boleh mencicipi secukupnya dalam porsi kecil.

Ada baiknya menata pola makan dengan gizi yang seimbang. Asupan gizi bersumber karbohidrat 55%—65%, protein 10%—20%, lemak 30%, ditambah sayur, buah, serta vitamin-mineral. Semua sepakat makanan yang biasa disajikan saat Lebaran itu memang kaya akan zat gizi.

Namun, sangat jarang ditemukan rumah tangga yang menyajikan sayur dan buah saat Lebaran. Sayur dan buah membantu menetralisasi kolesterol, gula, dan garam/natrium tinggi yang terdapat pada sajian di atas. Kandungan tinggi serat pada sayur dan buah serta kandungan vitaminnya menjadi komponen aktif dalam proses tersebut.  

 

Kiat Sehat

Pada Lebaran kali ini, makanan apa yang Anda rencanakan untuk dihidangkan, rendang, sambal goreng hati, gulai daging, dan telur balado. Adapun dengan minumannya berupa aneka sirop atau soft drink. Ada anggapan, makanan yang kaya gula dan lemak ini adalah bentuk hadiah kita setelah berpuasa sebulan penuh. Salah satu cara makan yang sehat, saat Lebaran datang yakni dengan mengurangi asupan lemak. Bagaimana cara mengurangi asupan lemak pada santap menu Lebaran yang mayoritas berlemak?

Sebelum berkeliling ke rumah saudara dan makan bersama, jangan lewatkan waktu sarapan. Setelah salat id ambil sarapan ringan, seperti outmeal, putih telur, roti gandum, atau minum segelas susu low fat. Saat Lebaran makanan cenderung berlimpah, membuat tamu ingin mencicipi makanan yang dihidangkan tuan rumah, dengan porsi banyak. Siasati dengan banyak menghabiskan waktu, mengobrol bersama saudara atau tamu lainnya. Jadikan silaturahmi sebagai tujuan utama berkumpul dan anggaplah makan saat Lebaran merupakan pelengkap.

Berbagai hidangan lezat selalu tersaji saat Lebaran, termasuk pilihan lauknya, yang akan memicu seseorang untuk makan berlebihan. Pilihlah menggunakan piring kecil karena dapat menurunkan konsumsi kalori sebesar 22%. Sebaiknya pilih satu macam lauk saja dan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan protein di dalam tubuh.

Salah satu lauk yang biasa dihidangkan berupa olahan daging, baik daging sapi, kambing, maupun ayam. Bila memilih daging merah, cenderung tinggi akan lemak jenuh. Daging ayam pilihlah bagian dada bukan paha atau sayap karena dada lebih sedikit kandungan lemaknya.

Lebaran juga dihiasi minuman warna-warni yang begitu menarik untuk dilihat dan dinikmati. Sebaiknya jangan terlalu banyak mengonsumsinya, terutama sirop dan soda, karena biasanya mengandung gula yang cukup tinggi.

Pastikan banyak mengonsumsi air putih yang membuat merasa kenyang sehingga tidak ingin terlalu banyak makan. Dua gelas air putih 30 menit sebelum makan, menurunkan 75—90 kalori di dalam tubuh. Jumlah total kebutuhan air yang diminum lebih kurang dua liter per hari. 

Jangan dilupakan mengonsumsi sayur dan buah selama menikmati makanan di hari Lebaran. Lebih baik buah disajikan dengan dipotong bukan dalam bentuk es buah.

Untuk sayuran, usahakan konsumsi dengan dilalap mentah sehingga segar dan kandungan vitaminnya utuh. Pilihlah sayur yang tidak bersantan. Sayur dan buah membantu mengikat lemak agar tidak mudah diserap oleh tubuh. Porsinya lima kali per hari, yaitu waktu sarapan, makan siang, makan malam, dan di sela-sela waktu makan.  

Konsumsi gula dan lemak bertambah selama Lebaran, dianjurkan untuk menggiatkan olahraga sebagai penyeimbang. Meskipun libur Lebaran, tetap rutin berolahraga agar tubuh selalu sehat.

Manfaatkan kebiasaan berkunjung ke tetangga terdekat, sebagai salah satu cara untuk bisa berolahraga, dengan cara berjalan kaki. Dengan berjalan kaki, akan membakar kalori dari makanan yang dikonsumsi.

Merayakan hari kemenangan bukanlah makan sepuasnya dan bersantai tanpa beraktivitas fisik. Dengan beraktivitas, tubuh akan melepaskan hormon endorphin sehingga mood tetap gembira dan membantu membangkitkan efek positif diri.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR