Jakarta (Lampost.co) -- Anggota DPD Andi Mappetahang Fatwa atau biasa dikenal AM Fatwa sempat menulis buku sebelum akhirnya meninggal. Itu dilakukan di sela pengobatannya. 

"Walaupun dalam kondisi sakit beliau bikin buku riwayat hidupnya, buku tentang perjalanan hidupnya. Sampai saat ini baru setengah buku," ujar keponakan AM Fatwa Andi Agung Baso Amir ditemui di rumah duka, Jalan Condet Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis, 14  Desember 2017.

Andi mengungkapkan buku yang ditulis berisi riwayat hidup Fatwa. Saat ini penulisan sudah mencapai kurang lebih 300 halaman. 

"Biografi bercerita tentang masa hidupnya ketika dia di Nusa Tenggara Barat, masuk marinir, dan lain-lain riwayatnya," tutur Andi. 

Dia menuturkan proses pengetikan terkadang dilakukan oleh ajudan maupun asisten. Rencana awal buku akan berisi 500 halaman. 

"Saya lihat sendiri di RS sembari ngobrol, sementara ajudannya ngetik," beber Andi. 

AM Fatwa meninggal setelah berjuang melawan kanker hati stadium 4. Mantan Wakil Ketua MPR itu lahir di Bone, Sulawesi Selatan, 12 Februari 1939. 

Dia adalah salah satu tokoh yang kritis pada masa Orde Lama dan Orde Baru. AM Fatwa bahkan sempat dihukum penjara 18 tahun karena kasus 'Lembaran Putih Peristiwa Tanjung Priok 12 September 1984'. Hukuman itu dijalani efektif 9 tahun. 

Dia pernah menjadi staf khusus Menteri Agama Tarmizi Taher dan Quraish Shihab. Bersama tokoh senior Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais, dia menggulirkan gerakan reformasi hingga Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998.

Pada 14 Agustus 2008, dia dianugerahi tanda kehormatan Bintang Mahaputera Adipradana di Istana Negara. AM Fatwa juga memperoleh award 'Pejuang Antikezaliman' dari Pemerintah Iran yang disampaikan Presiden Mahmoud Ahmadinejad di Teheran pada 29 Januari 2009. 
 

PENULIS

MTVN

TAGS


KOMENTAR