Lampost.co -- Surat dan uang peninggalan merupakan bukti yang harus ada dalam proses melakukan sebambangan. Surat yang ditulis dan dibuat oleh gadis merupakan surat yang berisi tentang pemberitahuan bahwa gadis telah melakukan sebambangan dengan menerangkan siapa bujang yang melarikannya, di mana alamat rumahnya. Bahkan bagaimana silsilah keluarganya atau dapat dikatakan bahwa surat yang ditinggalkan oleh gadis merupakan surat yang memberikan keterangan kepada pihak keluarga mengenai identitas dan latar belakang bujang secara umum.
Surat dan uang peninggalan diletakkan oleh gadis pada tempat yang diperkirakan mudah untuk ditemui oleh keluarganya, misalnya diletakkan di lemari, di bawah kasur, di bawah bantal, atau di bawah taplak meja. Hal ini dilakukan agar pihak keluarga tidak mengalami kebingungan saat mengetahui anak gadisnya sudah tidak ada di rumah.
Dalam masyarakat adat Lampung Sungkai, tidak ada ketentuan berapa jumlah uang peninggalan yang harus ditinggalkan pada saat melangsungkan sebambangan. Sebab, memang perihal uang peninggalan adalah kesepakatan antara bujang dan gadis yang telah melakukan negosiasi. Biasanya jumlah uang peninggalan adalah sesuai dengan permintaan dari gadis sebagai salah satu syarat untuk melangsungkan sebambangan.
Uang peninggalan dengan jumlah yang sesuai dengan permintaan gadis, selanjutnya dapat bertambah sesuai dengan permintaan keluarga gadis pada saat proses penyelesaian sebambangan, adapun fungsi uang peninggalan tersebut bukan sebagai uang pembelian gadis, melainkan untuk dibelikan peralatan rumah tangga (sansan) bagi gadis dan suaminya sebagai modal dalam menjalani kehidupan yang baru bersama suami pilihannya.
Setelah semua syarat dan permintaan gadis sudah terpenuhi dan telah melakukan negosiasi, bujang dan gadis akan menentukan waktu untuk melakukan sebambangan. Adapun proses selanjutnya adalah gadis dilarikan ke rumah keluarga bujang, baik ke rumah orang tua bujang maupun rumah sanak saudaranya. Proses melarikan gadis dapat dilakukan pada pagi hari, siang hari, atau malam hari sesuai dengan waktu yang telah disepakati.
Dalam melakukan proses melarikan gadis, bujang akan ditemani atau dikawal oleh sanak saudara untuk membantu melancarkan proses sebambangan. Setelah gadis dilarikan dan dibawa ke rumah orang tua atau saudara bujang, gadis akan dijaga oleh keluarga bujang seperti menjaga anak sendiri sampai dengan proses penyelesaian selesai dan acara akad nikah sampai resepsi dilakukan.
Ada beberapa faktor terjadinya sebambangan, seperti tidak direstui oleh orang tua, uang serah yang tidak mencapai kesepakatan, atau memang semata-mata keinginan dari kedua muli-mekhanai. Adapun selain proses sebambangan yang merupakan keinginan kedua pihak, ada pula kejadian pengambilan gadis dengan nama nunggang (hibal pengatu). Nunggang atau kadang disebut dengan istilah hibal pengatu (mengambil muli secara paksa) merupakan salah satu cara masyarakat adat Lampung untuk melangsungan perkawinan yang biasanya terjadi dikarenakan muli makkung haga baibai atau muli sangun mak suka jama mekhanai sina (gadis belum menginginkan untuk menikah atau muli memang tidak menyukai mekhanai tersebut).
Nunggang dalam masyarakat adat Lampung Sungkai merupakan salah satu pelanggaran yang dikenal dengan istilah ila ila dan harus dihindari atau apabila nunggang terjadi, akan dikenakan denda karena pada dasarnya nunggang merupakan suatu proses pemaksaan terhadap muli untuk menikah dengan mekhanai yang tidak disukainya, tetapi mekhanai sangat berharap menikah dengan muli dan orang tua mekhanai setuju sehingga dilakukan pemaksaan. Hal ini merupakan suatu perbuatan yang dapat mengarah ke jalaur hukum, akan tetapi dalam masyarakat adat Lampung terlebih dahulu setiap pelanggaran adat memiliki tata tertib penyelesaiannya tersendiri dengan mengedepankan musyawarah dan mufakat dan penyelesaian secara adat. Waalahualam bisawab.

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR