LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 9 July
24122
LAMPUNG POST | Sebambangan, Perkawinan Masyarakat Adat Lampung (1)
Ilustrasi sebambangan. malahayati.ac.id

Sebambangan, Perkawinan Masyarakat Adat Lampung (1)

Lampost.co -- Masyarakat adat Lampung Pepadun merupakan salah satu dari dua masyarakat adat di Lampung, yaitu Lampung Pepadun dan Saibatin. Pada umumnya masyarakat adat Lampung Pepadun bermukim di daerah-daerah pedalaman, seperti Abung (Siwomego), Way Kanan (Buaylima), Sungkai Bungamayang, (Megou Pak) Tulangbawang, serta Pubiyan (Telusuku). Masyarakat adat Lampung Pepadun merupakan masyarakat yang memiliki hukum adat perkawinan tersendiri yang biasa disebut dengan istilah hibal muhibal.

Perkawinan Adat Lampung Pepadun

Masyarakat adat Lampung merupakan masyarakat lingkungan hukum adat bagian wilayah Sumatera bagian selatan dengan kategori masyarakat hukum genealogis yaitu suatu kesatuan masyarakat yang teratur, ketika para anggotanya terikat pada suatu garis keturunan yang sama dari satu leluhur, baik secara langsung karena hubungan darah maupun secara tidak langsung karena pertalian perkawinan atau pertalian adat, dengan sistem patrilineal yang merupakan sistem yang susunan masyarakatnya ditarik menurut garis keturunan bapak (garis laki-laki).
Ini berarti dalam pelaksanaan hukum perkawinan pun harus mengikuti aturan dari garis bapak atau garis laki-laki yang biasanya disebut dengan mekhanai. Walaupun ada pula dalam perkawinan pihak laki-laki yang mengikuti keluarga perempuan yang disebut dengan semanda (mengikuti) karena faktor perempuan tersebut merupakan anak tunggal atau karena faktor lain yang mengharuskan laki-laki mengikuti keluarga istrinya.
Hibal muhibal adalah proses atau tata cara yang pertama kali dilakukan pada saat akan melangsungkan perkawinan dengan konsep diambil-mengambil atau hibal muhibal dapat disamakan dengan proses pelamaran atau khitbah. Konsep ambil-mengambil merupakan konsep dasar dalam hibal muhibal, diambil berlaku bagi muli dan mengambil berlaku bagi mekhanai. Walaupun dalam perkembangan dan praktik hibal muhibal dapat terjadi menjadi bermacam-macam, seperti nunggang atau hibal pengatu, hibal bambang padang atau intar terang, hibal intar padang, hibal sereba atau payu, hingga kemudian ada istilah perkawinan dalam adat Lampung yaitu sebambangan atau larian.

Sebambangan

Sebambangan dilakukan oleh mekhanai dan muli yang sudah memiliki hubungan spesial dan memiliki janji sebelumnya untuk melakukan sebambangan dengan cara gadis meninggalkan surat dan uang peninggalan sebagai tanda bahwa si muli telah melakukan sebambangan. Sama halnya dengan nunggang, sebambangan juga memiliki tata cara atau tata tertib penyelesaiannya sesuai dengan ketentuan hukum adat yang berlaku di masyarakat.
Sebelum sebambangan dilakukan terdapat proses yang harus dilewati oleh bujang dan gadis, yaitu negosiasi antara keduanya. Hal tersebut dilakukan karena pada dasarnya sebambangan dilakukan atas dasar kesepakatan antara keduanya sebagaimana yang telah diatur dalam asas perkawinan hukum adat.
Sebambangan dapat dilakukan apabila bujang dan gadis telah sepakat untuk melangsungkan sebambangan. Hal tersebut diawali dari proses negosiasi antara keduanya, yaitu bermula dari bujang merayu dengan cara yang baik ataupun gadis yang meminta agar dia dilarikan yang biasanya disebut dengan muli kak wat kiluan yang berarti gadis sudah memiliki permintaan untuk dilarikan.
Setelah mengutarakan maksud atau permintaan tersebut, gadis akan meminta sejumlah uang sebagai uang peninggalan (tengepik) kepada bujang dengan jumlah sesuai dengan permintaan gadis, dan selanjutnya keduanya menentukan perjanjian waktu, yaitu tanggal hari dan jam untuk melangsungkan sebambangan.
Untuk mempersiapkan dan menyambut proses sebambangan biasanya sudah diketahui oleh pihak keluarga laki-laki dan sudah direncanakan sesuai dengan kesepakatan antara bujang dan gadis, dan sebelum sebambangan dilakukan oleh muli-mekhanai antara keduanya layaknya negosiasi sudah dimulai dan sudah selesai dipihak mereka berdua. Oleh karena itu, dalam hukum adat Lampung Pepadun, khususnya di Sungkai, bukan hanya penyelesaiannya yang menggunakan prinsip musyawarah, artinya sejak prasebambangan pun sudah melakukan musyawarah yaitu negosiasi untuk mendapatkan hasil yang terbaik. n

BAGIKAN


BERITA TERBARU

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv