LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 10 July
6673

Tags

LAMPUNG POST | Seangkonan
(Foto : Dok Lampost)

Seangkonan

(Lampost.co)--“Jak uncukni tanoh Aceh, hinggani tanoh Papua... Kham unyinni semuakhian. Sang bumi, sang bangsa, sang bahasa... Seangkonan di lom Indonesia.”

Sayup terdengar Kacung menggumamkan syair lagu yang dilihatnya di televisi, tapi menggunakan bahasa ibunya. Syair itu terus diulangnya sembari membersihkan rumput di halaman belakang rumah sang majikan.

Tiba-tiba, "Woi... Abang. Apik tenan syairnya. Mengarang ya, kok bahasanya beda," tegur Inem, sahabatnya yang sama-sama bekerja di sana, dari teras belakang rumah majikan. "Ayo sini istirahat dulu, minum kopi."

"Payu kahut.... Sangun pas nihan inji. Sudah capek badan, tinggal ngopinya," ujar Kacung sembari menghampiri Inem. "Ini saya masih senang menyanyikan lagu itu, mencerminkan banyaknya saudara kita sebangsa," kacung melanjutkan.

"Ya, memang begitu, Bang, semua kita bersaudara. Tapi banyak juga yang cuma ngaku saudara, tapi tidak dengan perlakuannya," sahut Inem. "Kalau saudara itu, ya peduli."

"Istilahnya kalau kami di pekon itu acak angkon jak tutukh. Lebih baik sepedulian daripada basa-basi dengan panggilan hormat," kata Kacung. "Itu juga diajarkan dalam agama, Nem. Kita puasa untuk menambah kepdulian kita kepada yang lebih kekurangan dengan kita. Wujudnya zakat di hari sebelum Lebaran."

"Iyo, Bang. Sama juga kan akan berdosa seseorang saat dia kenyang, ternyata ada tetangganya yang kelaparan. Itu yang diajarkan pak ustaz di musala waktu tarawih," ujar Inem.

Inem pun memberi penjelasan yang lebih panjang. "Dengan begitu, antara rakyat atau umat yang berbeda kelas sosial, suku, agama, dan golongan saling peduli. Kita hilangkan pandangan politik yang memecah kita," kata Inem.

"Iyu kantik ku. Niku yang tambah pintakh, nekhima nihan ceramahmu," kata Kacung meledek Inem. "Eit... tapi itu benar, Nem. Jangan sampai kepedulian kita dijajah pandangan politik."

Inem tidak kalah arguman. "Betul, Bang... sebab dari dulu pengalaman bangsa ini yang memecah belah atau adu domba itu selalu penjajah," kata Inem.

"Ana dia maksudku, Nem. Kita harus seangkonan dan jangan mau dipecah-pecah, akhirnya tidak ada lagi pedulinya dengan saudara," kata Kacung. "Inalillahi wa innailaihi rajiun."

LAMPUNG POST

BAGIKAN


TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv