KOTABUMI (Lampost.co) -- Tenaga guru di Sekolah Dasar Negeri 2 Bumi Agungmarga, Kecamatan Abung Timur, Kabupaten Lampung Utara mengeluhkan sarana, prasaran dan penunjang pendidikan yang tak ada. Sehingga mengganggu kinerja guru dalam memberikan pendidikan kepada para penerus bangsa.

Berdasarkan pantauan Lampost.co, Selasa (5/3/2019), prasarana mebel cukup memprihatinkan seperti yang ada di dalam salah satu ruang kelas SDN 2 Bumi Agungmarga yang hanya ada tiga bangku dan tiga meja saja. Langit-langit ruangan pun tak kalah miris dengan triplek plafon terbuka menganga dan tergantung karena lapuk dimakan usia dan tak pernah disentuh. Sementara di tengah-tengah halaman sekolah, jangankan bendera sang saka merah putih yang berkibar, tiangnya pun tak ada.



Para tenaga guru mengaku selama ini kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah, khususnya instansi yang membidangi pendidikan. Jangankan masalah fasilitas yang tak layak didapat, permasalahan tunjangan para guru pun diterima sangat jauh dari pengorbanan yang dilakukan.

"Yang pasti itu tadi, kepala sekolah memang jarang masuk. Sementara yang diatas sana tidak pernah melihat kondisi yang ada di lapangan. Jangankan masalah bangunan atau fasilitas layak, saat mengajar pun kami harus berdiri karena tidak ada kursi dan meja," kata salah seorang guru SDN 2 Bumi Agungmarga, M Bali saat disambangi disekolah itu, Selasa (5/3/2019).

Sebagai desa kantong dari pusat ibukota kecamatan di Abung Timur, sudah sepantasnya mereka mendapatkan berbagai tunjangan bagi wilayah terpencil di sekolah yang berada di daerah perbatasan itu. Mulai dari tunjangan daerah terpencil, fungsional sampai dengan non-sertifikasi. "Ya itu kalau dengar informasi ini disini cukup sedih. Kawan-kawan di sekolah yang berada di daerah akses jalannya bagus dan agak ditengah saja dapat berbagai tunjangan," kata dia.

Lebih miris lagi, nasib guru yang berstatus tenaga honorer. Hanya mendapat gaji Rp100 ribu per bulan. Itu pun dibayar tiga bulan sekali dengan nominal tak lebih dari Rp300 ribu. Bahkan terkadang telat, karena tidak ada pencairan dana bantuan operasinal sekolah itu.

"Jangankan semua yang dikatakan itu. Spidol peranti mengajarkan pun kami harus mengeluarkan uang dari kantong sendiri. Kalau masalah fasilitas lihat sendiri, tiang bendera pun tak ada sehingga tidak pernah ada upacara. Bagaimana kalau keadaannya demikian, kami pun tak dapat berbuat banyak," kata salah seorang tenaga honorer SD setempat, Sumarni.

Tidak hanya masalah kepala sekolah yang dikeluhkan kinerjanya yang dikeluhkan oleh dewan guru saja, melainkan juga wali murid dan lingkungan. Sehingga masyarakat banyak yang tidak percaya menyekolahkan anaknya di SDN 2 Bumi Agungmarga dan lebih memilih memindahkan ke sekolah lain yang berada di kabupaten tetangga yakni Tulangbawang Barat.

"Yang lebih miris ada mas. Anakku itu sekarang sudah masuk kelas empat. Tapi kok baca tulis saja belum bisa, bagaimana nasibnya kedepan kalau begini," tambah Budi salah seorang warga sekitar yang anaknya bersekolah di SDN 2 Bumi Agungmarga.

loading...

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR