PESAWARAN (Lampost.co) -- Muslimah (35), mengaku hanya bisa pasrah saat manatap tumpukan gabah yang dijemurnya di sudut halaman rumah lenyab. Harapan untuk menikmati nasi pulen beras baru yang aromanya khas pupus sudah. Hasil panen sawah di samping rumahnya itu ternyata raib digasak maling.

Pencuri hanya menyisakan plastik warna biru berserakan yang ia gunakan untuk menjemur gabah. Muslimah berencana pagi itu gabah yang sudah dijemurnya selama tiga hari akan digiling ke heler di kampung sebelah untuk persediaan makan sehari hari. ”Aku isone mung pasrah wae lah. Mungkin durung rejeki. (Saya bisanya cuma pasrah. Mungkin belum rejeki),” ujar ibu dua anak, warga Dusun Sukaraja , Desa Sukaraja, Kecamatan Gedongtataan, Pesawaran ini  lirih, sambil mencium rambut putra bungsunya, Jumat (28/9/2018).  



Yudi (37), suaminya pun mengatakan tak tahu harus bagaiaman  mendapati kenyataan hasil panen yang menjadi tumpuan kehidupan  rumah tangganya hilang dalam sekejap. Padahal panenan itu dia tunggu selama tiga bulan lebih. Itu pun harus berbagi dengan orang tuanya, karena sawah yang dia garap menggadu (bagi hasil, red) dengan orang tuanya. Dia hanya bisa menghibur diri, sambil menanti upahnya sebagai kuli bangunan di Sukarame Bandar Lampung dibayar setiap hari Sabtu. Petani itu tak juga ingin melaporkan kejadian yang menimpanya kepada polisi atau pamong setempat.  Dia beranggapan melapor pun gabah yang sudah dicuri tak mungkin kembali.    

Prihal pencurian gabah di sawah dan di rumah  warga  rupanya bukan hanya terjadi di tempat dusun Muslimah . Kabar dari mulut ke mulut pun terdengar aksi pencurian gabah di rumah rumah warga terjadi juga di dusun lainnya. Bahkan di tengah sawah, para buruh tani yang tengah membawon (upahan memotong padi, red) pun membicarakannya.  Gabah di rumah  Ahmad, warga Sukaraja 1, belakang Pasar Gedongtataan juga tak luput dari pencuri. Kemudian gabah milik pasangan Peni-Ngatemin , di Desa Bagelen, sebanyak 6 kuintal juga lenyap. Belum lagi petani di Karangsari dan Jengkolan. Semua dusun itu masuk dalam wilayah Kecamatan Gedongtataan. Disinyalir komplotan mencuri menggunakan kendaraan roda empat. Namun sampai sekarang aksi maling yang sangat meresahkan petani ini masih anteng anteng saja menikmati jerih payah petani.

Ironisnya,  keresahan petani tidak sampai terdengar di kantor polisi atau kantor desa. Semua korban tak ada yang bersemangat untuk melapor. Padahal betapa kecewanya mereka. Mengurus tanaman padi sebenarnya sama seperti mengurus anak bayi. Harus dipupuk, disiangi, dikontrol pasokan airnya.  Setelah padi mulai merunduk, petani harus menjaganya dari serangan hama wereng. Ketika padi mulai menguning, mereka harus rela berpanas hari menjaga dari serangan burung pipit dan tikus. Tidak sedikit biaya yang harus mereka keluarkan untuk membeli beragam jenis pupuk agar mendapatkan hasil yang melimpah.

Meskipun demikian, Muslimah dan  petani lainnya tak pernah kapok. Mereka menanam dan terus menanam demi menggapai asa agar bisa membiayai sekolah anak anaknya. Ada anggapan, tidak menutup kemungkinan komplotan pencuri gabah adalah mereka yang pada terlibat dalam peredaran narkoba, sehingga mata dan hatinya tidak memiliki belas kasih terhadap sesama, terutama petani. “Satu kuintal gabah yang baru digiling harganya tidak kurang dari enam ratus ribuan. Siapa yang tidak tergiur mencurinya,” ujar petani. 

 

 

 

EDITOR

Firman Luqmanulhakim

TAGS


KOMENTAR