SASTRAWAN dan budayawan, Radhar Panca Dahana, dalam tulisan di halaman pertama Media Indonesia (grup Lampung Post), edisi 17 April 2019, menuliskan sajak yang diambil dari bahasa Papua berjudul Kitorang Basodara. Artinya, kita (semua) bersaudara. Saudara? Ah, betapa sejuk dan menenangkan sekali kata itu.

Sungguh, judul di halaman pertama Media Indonesia itu menjadi sebuah oasis yang menyejukkan di tengah sikon bangsa yang menguras emosi dan tenaga. Saya berpikir dan bertanya dalam hati mengapa Radhar menggunakan judul berbahasa daerah dan bahasanya dari Indonesia bagian timur pula.



Terlintas di benak saya saat mendengarkan orang Papua bercakap-cakap dan bersenda gurau. Begitu jelas artikulasi dan logat Papua yang telah berbaur dengan bahasa Indonesia. Ya, entah mengapa ketika mendengarkan percakapan orang Papua memang terasa sekali keindonesiaan. Maka, saya merasakan tulisan Radhar yang lebih menekankan pentingnya menjaga persaudaraan. Saudara sebangsa dan setanah air. Diingatkan sebagai satu bangsa dan satu tanah air. Indonesia Raya.

Dalam sajak itu, Radhar mengritik akal sehat jika didefinisikan sekadar argumen yang kuat dibekali pesona kata dan kalimat?

“Tidak, tidak cukup, sobat. Akal atau pikiran adalah alat pencerna kenyataan, dalam Yunani kuno disebut logos dalam banyak pengertian. Intinya, ia adalah susunan pendapat atau argumen yang didasarkan pada data valid atau absah. Valid itu teruji oleh banyak ahli atau eksperimentasi, bukan data yang basa atau yang basi.” Demikian Radhar menulis dalam salah satu baitnya.

Sobat, tulis Radhar, untuk mengungkapkan betapa ia tidak berjarak dengan pembaca. Akal sehat bukanlah seperti yang diungkapkan di atas. Ia harus bermanfaat bagi seluruh umat bukan segelintir elite. Jika akal sehat yang dimaksud hanya menekankan pesona kata, apalah artinya akal jika tidak digunakan secara sehat atau baik. Awas! Jangan-jangan itu bukan akal sehat, tapi akal bulus.

Radhar mengajak semua mesti sehat menciptakan keceriaan dan kebahagiaan. Timbang semua pikiran juga kelakuan biar seimbang, kepentingan sendiri juga kebutuhan lain orang.

“Kita adalah ikatan yang dibentuk alam dan zaman. Keragaman menakjubkan jadi keajaiban ikatan yang menyatukan. Ada kau dalam diriku, begitu aku pun dalam dirimu. Ada Batak dalam Aceh, ada Aceh dalam Bugis, ada Bugis dalam Jawa, ada Jawa dalam Bali, ada Bali dalam Betawi, ada semua dalam diri ini. Kita ini satu, satu keluarga: kitorang basodara.”

Indonesia adalah saya, kamu, dan akhirnya menjadi kita. Maka, di bawah Pancasila dan UUD 1945 kita harus selalu mengingat bahwa kita ini masih bersaudara. Sebab, aku dan kau adalah saudara. Kitorang basodara. Kita bersaudara. Salam.

 

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR