KETUA Umum Partai Nasdem Surya Paloh melihat bahwa isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) masih menjadi komoditas andalan untuk meraup dukungan menjelang Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2019. Kelompok-kelompok tertentu menggelindingkan isu sensitif tersebut untuk menyerang lawan politik.

"Konsumsi yang menjadi andalan adalah isu SARA. Itu yang menjadi andalan. Itu artinya pemahaman masyarakat kita yang masih amat mudah terprovokasi," ujar Surya saat peringatan Hari Pendidikan Nasional sekaligus syukuran HUT ke -1 Akademi Bela Negara (ABN) di Jakarta. (Kompas.com, 2/5)



Kondisi ini tak bisa berlarut. Paloh mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk tetap solid dan menonjolkan kebersamaan ketimbang perbedaan.

"Seharusnya kita mampu membangun pemahaman masyarakat. Perbedaan bisa diwujudkan untuk coba merangkul, merangkum, dari perbedaan menuju kebersamaan," kata Surya.

Menurut dia, Indonesia akan berhadapan dengan banyak persoalan jika masyarakat terus menonjolkan perbedaan.

"Tidak ada artinya model demokrasi, kalau kita hanya berhenti untuk perbedaan di atas perbedaan. Kalau itu yang menjadi pemahaman, cepat atau lambat kita akan mendapatkan hasil yang mudaratnya lebih banyak dari manfaatnya," kata Surya.

Surya Paloh bahkan menyinggung maraknya perang hastag yang belakangan disablon di kaus. "Hari ini sudah bergeser terlalu jauh, kita mudah terprovokasi. Hastag kaus ganti presiden diganti lagi dengan hastag lain. Ini tidak bisa kita artikan dialektika semata. Semakin terbuang banyak energi kita untuk hal-hal seperti ini," tuturnya.

Diputarnya kembali isu SARA dalam retorika politik bahkan dengan intonasi dan antagonitas yang tinggi, bisa jadi sebagai cerminan pihak tertentu kehabisan akal. Terutama setelah melihat tren hasil survei periode terakhir, dengan salah satu simpulnya survei Harian Kompas yang dirilis 23 April 2018, hasilnya memastikan elektabilitas Jokowi 55,9%, didukung dengan tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan Jokowi-JK mencapai 72,2%.

Dengan hasil survei yang sedemikian mantap posisi Jokowi, jelas amat susah mencari celah untuk menyalipnya, apalagi membalikkan posisinya. Untuk mengubah kondisi tersebut jelas diperlukan upaya yang luar biasa, dan mungkin, isu SARA yang diandalkan. Selain itu tentu, dilengkapi berbagai variasi "permainan keras".

Kemungkinan usaha itu bisa menurunkan elektabilitas dan kepuasan terhadap Jokowi tak tertutup. Cuma, seberapa besar? ***

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR