DALAM masyarakat adat Lampung yang bersifat patrilineal, memiliki anak laki-laki sebagai suatu kebanggaan tersendiri dibandingkan dengan hanya memiliki anak perempuan. Anak laki-laki merupakan penerus dalam adat. Apabila sebuah keluarga orang Lampung tidak memiliki anak laki-laki yang kelak akan menjadi penerus sistem kepenyimbangan adat ayahnya adalah suatu bentuk kekurangan.

Walau bagaimanapun memiliki anak sebagai penerus trah garis lurus harus tetap dipertahankan dengan cara apa pun. Baik dengan cara poligami atau dengan mengangkat seorang anak untuk dijadikan sebagai penerus keturunan yang kedudukannya sejajar dengan anak sendiri. Sebab, mengangkat seorang anak terkadang bagi sebagian orang dianggap kurang memberikan kepuasan batin tersendiri karena bukan dari darah dagingnya langsung. Akhirnya, dipakailah cara-cara untuk dapat memiliki dan mempertahankan kedudukan seorang anak laki-laki dalam sebuah keluarga.



Ada sebuah perkara perihal meninggalnya seorang anak laki-laki dalam suatu keluarga, tetapi kemudian setelah itu lahir kembali seorang anak laki-laki dari keluarga yang sama. Oleh sebagian kepercayaan masyarakat adat Lampung, anak yang lahir tersebut disebut sebagai sanak uloh.

Sanak uloh apabila diartikan secara bahasa adalah anak yang kembali. Berasal dari kata “sanak” yang berarti anak dan “uloh” (muloh) yang berarti kembali. Pengertian kembali diartikan anak tersebut datang kembali (muloh) ke dunia setelah sebelumnya pergi (lijung).

Apabila ada yang bertanya dalam keseharian perihal anak laki-laki sebelumnya atau kakaknya yang telah meninggal tadi, orang tua si anak akan menjawab bahwa anaknya bukan meninggal dunia, melainkan sementara lijung (pergi). Dan anak yang telah lahir ini adalah anaknya yang telah kembali (muloh) lagi setelah sebelumnya pergi jauh (lijung jawoh).

Orang Lampung zaman dahulu (tumbai) percaya anak laki-laki yang meninggal kemudian lahir kembali atau disebut sanak uloh merupakan anak yang dikembalikan oleh Tuhan. 

BERITA LAINNYA


EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR