ANDAI saja sampah dan tinja manusia pada seluruh tempat pembuangan akhir (TPA) diolah dengan teknologi yang terintegrasi menjadi biogas atau biometana, mungkin saja pencemaran lingkungan akibat sampah dan tinja manusia tidak lagi ada.

Sampah bukan hanya menjadi objek yang tak sedap di pandang mata, melainkan juga tak sedap dihirup oleh indra penciuman karena bau busuk yang ditimbulkan. Contohnya saja, kasus pencemaran lingkungan di TPA Bakung, Bandar Lampung. Di tempat pembuangan limbah manusia itu, kondisinya boleh dibilang menjijikkan.



Daya tampung kolam pembuangan limbah tinja yang overkapasitas membuatnya meluap dan mencemari lingkungan sekitar. Jumlah volume limbah yang masuk melebihi daya tampung kolam pembuangan. Sejak dibangun pertama kali, IPLT tersebut hanya menampung 15 meter kubik per hari, sementara lumpur tinja yang masuk mencapai sekitar 70 meter kubik per harinya.

Biogas merupakan gas yang dihasilkan aktivitas anaerobik atau fermentasi dari bahan-bahan organik termasuk kotoran manusia dan hewan, limbah tangga, sampah biodegradable, atau setiap limbah organik yang biodegradable dalam kondisi anaerobik.

Masyarakat dapat memanfaatkan biogas sebagai pengganti elpiji untuk kebutuhan sehari-hari. Contohnya di Lampung Barat yang sudah berhasil menciptakan biogas dari pengolahan sampah.

Hal itu berawal dari keinginan Pemkab Lambar mempercantik TPA Bahwai di Balikbukit yang menjadi salah satu titik pantau penilaian Adipura, yang melakukan uji coba pembuatan jaringan dengan memanfaatkan timbunan sampah untuk menghasilkan gas metan. Uji coba tersebut kini mulai membuahkan hasil. Sebuah kompor yang dijadikan sampel berhasil mengeluarkan gas metan dan nyala api keluar yang bisa digunakan untuk memasak bagi petugas kebersihan di lokasi TPA Bahway.

Pengembangan biometana untuk bahan bakar sebetulnya sudah digarap di berbagai wilayah Indonesia. Sebut saja Kabupaten Gunungkidul, Jawa Tengah, yang pengolahan kotoran manusia menjadi biogas dilakukan di Ponpes Darul Quran. Mereka memanfaatkan biogas ini untuk segala keperluan dan bisa menghemat pengeluaran bahan bakar sampai Rp2,5 juta per bulan.

Di Maros, Sulawesi Selatan, pengembangan biogas digarap oleh Yayasan Rumah Energi yang bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan Norwegia yang menggelar Program Biru berupa reaktor biogas yang dapat mengolah kotoran dan sampah dari manusia menjadi biogas untuk kebutuhan rumah tangga.

Di Bandar Lampung sendiri kapan ya? Andai saja ada pemerintah setempat mengalokasikan dana untuk sebuah program reaktor biogas, mungkin saja permasalahan TPA Bakung akan teratasi dan masyarakat turut menuai berkahnya. Tapi, semua kembali kepada pemerintah setempat yang punya andil dan peraturan.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR