ISRA Mikraj adalah peristiwa penting dan paling menakjubkan dalam peradaban manusia yang harus diimani setiap mukmin. Isra merupakan perjalanan Rasulullah Muhammad saw di malam hari dari Masjidil Haram (Mekah) ke Masjidil Al Aqsa (Yerusalem-Palestina).

Hal itu sebagaimana firman Allah Azza Wajalla pada Surah Al-Isra: 1, "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha".



Mikraj secara bahasa adalah suatu alat yang dipakai untuk naik. Secara istilah, Mikraj bermakna tangga khusus yang digunakan Nabi saw untuk naik dari bumi menuju ke atas langit, berdasarkan firman Allah dalam Surah An-Najm Ayat 1—18. Kemudian, dilanjutkan menuju Sidratul Muntaha dengan tujuan menerima wahyu Allah swt yaitu perintah salat wajib lima waktu.

Perintah untuk menegakkan salat langsung disampaikan kepada Rasulullah tanpa perantara. Dalam hadis sahih disebutkan ada banyak peristiwa yang terjadi yang dialami dan disaksikan Rasulullah.

Dari sudut pandang saya sebagai orang awam, betapa pentingnya perintah salat hingga diwahyukan langsung oleh Allah Yang Maha Pencipta langit dan bumi beserta isinya kepada nabi akhir zaman Muhammad Saw. Betapa pentingnya salat lima waktu ini hingga menjadi tiang agama. Seandainya seorang dermawan yang memberikan seluruh hartanya pada orang miskin sekalipun tak dapat menyamai amal menegakkan salat lima waktu.

Sebab, salat merupakan cara terbaik mengingat Allah. Sebagaimana wahyu QS Taha (20): 14, “Sesungguhnya, Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku”.

Masih banyak firman Allah swt dalam Alquran yang menyebutkan tentang salat. Kita telah mengetahui pentingnya menegakkan salat lima waktu. Pertanyaannya, apakah kita telah mendirikannya?

Jika belum, tentulah ada yang salah pada diri kita. Saat azan berkumandang, para mukmin berwudu dan melangkahkan kakinya ke masjid untuk menunaikan salat magrib, isya, subuh, zuhur, hingga asar. Terus-menerus hingga ajal menjemput. Bagaimana dengan kita? Dunia masih menjadi yang utama, akhirat seakan cerita dongeng yang belum pasti. Astagfirullah. Masya Allah, padahal itulah kehidupan panjang selama-lamanya.

Maka, patutlah bersedih bila azan berkumandang, hati kita tak mengingat Allah dan melalaikan perintah-Nya, sementara azab Allah sungguhlah pedih. Namun, sebagai mukmin, janganlah kita berputus asa memohon dan mengejar hidayah Allah Swt agar kelak kita menjadi hambanya yang beriman dan bertakwa. Bukan sebaliknya, menjadi hamba yang lalai.

Untuk itu, Isra Mikraj hendaknya mengingatkan kita untuk menjadi pribadi yang saleh dan salihah. Membuat kita semakin sadar betapa pentingnya perintah salat hingga Sang Maha Pencipta langsung mewahyukannya kepada Rasulullah tanpa perantara.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR