KALIANDA (Lampost.co)--Enam warga Desa Sukaraja, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, menjadi saksi hidup awal tsunami menerjang Lampung-Banten, Sabtu (22/12/2018). Meski selamat, kini keenam orang tersebut masih trauma dengan gelombang tsunami.

Salah satu dari mereka, Madnur (45), mengatakan saat kejadian dia bersama kelima temannya tengah aysik memancing cumi di laut dengan menggunakan perahu pancung (perahu kecil) di seputaran laut desa setempat.



"Kami berenam sedang mencari cumi di laut dengan jarak antara kami dan bibir pantai Gunung Anak Krakatau kurang-lebih 20 meter dengan masing-masing menggunakan perahu kecil," kata dia, Jumat (11/1/2019).

Sebelum adanya gelombang, Madnur melihat kejadian dari jauh Anak Gunung Krakatau meletus disertai bunyi dentuman disertai letusan. Hingga membuat Anak Krakatau bersinar kemerahan dan kilapan petir yang tidak henti.

"Sekitar pukul 20.00, Anak Krakatau meletus dan disertai kilat, sehingga terlihat terang. Tidak lama kemudian tercium seperti bau belerang dan laut berubah warna menjadi keruh," ujarnya.

Hal yang sama dikatakan Rio Rizky (38). Dia mengatakan kurang lebih tiga jam setelah Gunung Anak Krakatau itu meletus, gelombang laut menjadi naik sehingga perahu yang ditumpangi mereka lenyap ditelan gelombang raksasa.

"Awalnya air laut mengayun seperti air bak yang tumpah. Tidak lama itu datang gelombang besar yang sudah di atas kepala sehingga saya tergulung dan terpisah dari perahu. Saya berenang berusaha naik sampai melihat Madnur yang masih di atas perahunya yang juga berjuang menyelamatkan diri sampai akhirnya saya diselamatkan juga," kenangnya.

Adapun nama-nama keenam warga yang selamat asal Desa Sukaraja tersebut adalah Madnur (47), Marjuki (35), Salim (45), Rio Rizky (38), Lekok (35), dan Sobari (44). Hingga kini keenamnya masih trauma ketika melihat ombak di laut.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR