Bandar Lampung (Lampost.co): Polda Lampung terus melakukan penyelidikan dugaan penganiayaan terhadap RDP,  peserta pendidikan dasar (diksar) UKM Mahusa Fakultas Hukum Unila.

Dirreskrimum Polda Lampung Kombespol M. Barly mengatakan, pihaknya telah melakukan serangkaian penyelidikan. Yakni, memeriksa, saksi (saksi pelapor), melakukan olah TKP, berkoordinasi dengan Pihak Unila, dan meminta visum dari RSUD Abdul Moeloek.



"Dari hasil penyelidikan, memang benar adanya diksar itu, pada 13-15 September 2019 di Gunung Betung, Padang Cermin," ujarnya Rabu 9 Oktober 2019.

Rencananya Jumat, 11 Oktober 2019, pihak Polda bakal melakukan pemanggilan terhadap para saksi peserta, panitia, terutama panitia terlapor.

"Kalau memang terjadi dan cukup alat bukti, maka bakal kita naikan ke tingkat penyidikan dan bakal ada Tersangka," katanya.

Dari penyelidikan yang dilakukan Polda Lampung, diketahui pada 14 September 2019 pukul 21.00 saat proses perakitan tenda, korban RDP pingsan, namun ditampar oleh panitia berinisial GT lantaran diduga membohongi peserta dengan cara pura-pura pingsan. Setelah sadar RDP dibawa ke Pos utama oleh panitia berinisial ST, dan RDP meminta izin untuk pulang, karena tidak kuat, dan korban diminta untuk mengemas barang.

Berita Terkait: Ngeri, Ini Hasil Visum Korban Diksar Maut Unila

Lalu datang dua senior korban berinisial  GT dan FZ yang berdalih hendak membantu mengemas barang korban. Namun korban dibawa ke tengah hutan oleh GT dan FZ kemudian dipukuli dan ditendang di bagian perut, dada, kaki, serta kepala. Ketika korban dianiaya oleh GT dan FZ, datanglah senior berinisial TN, ia meminta GT dan FZ untuk berhenti menganiaya korban, dan meminta GT serta FZ membawa korban beserta barangnya ke tenda pos utama.

Namun, ketika korban kembali membereskan barang-barangnya di dekat tenda utama, korban kembali ditonjok dan ditampar oleh GT, sedangkan FZ menendang, menginjak kaki, serta mencekik leher korban, Kemudian korban dibawa ke tenda utama.

Ketika proses pengantaran ke tenda utama dan korban diantarkan oleh GT, FZ, dan AZ, GT dan FZ kembali memukul korban dibagian muka dan menenang perut korban, tak berselang lama datang lagi Panitia berinisial DM, yang  memukul wajah dan Perut korban berulang kali.

Pada Minggu 15 September 2019 pagi, korban pun hendak diantarkan ke luar tenda untuk diantarkan pulang oleh Senior, namun GT kembali memukul wajah korban, sedangkan FZ mencekik leher korban. Akhirnya GT, FZ, DM, dan AZ pun dilaporkan ke Mapolda Lampung, dengan nomor LP/B-1446/IX/2019/LPG/SPKT tanggal 27 September 2019.

Diberitakan sebelumnya, seorang mahasiswa Fakultas Hukum Unila, melaporkan dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh seniornya ke Mapolda Lampung. Mahasiswa Fakultas Hukum Unila angkatan 2019 berinisial RDP (19), warga Labuhan Ratu, tersebut datang bersama keluarganya ke Mapolda Lampung, untuk melaporkan dugaan penganiayaan.

Usai berkoordinasi dengan SPKT dan penyidik, sementara korban diminta untuk menghadirkan saksi sebagai penguat bukti laporan.

Kepada Lampost.co, RDP mengatakan awalnya ia mengikuti pendidikan dasar salah satu UKM Mahasiswa  FH Unila  di Gunung Betung, Pesawaran pada 12-15 September 2019 bersama 12 Mahasiswa lainnya.

Menanggapi hal tersebut Dekan Fakultas Hukum Unila, bakal melakukan penindakan terhadap Mahasiswanya yang diduga melakukan penganiayaan. Ia mengaku perlakuan dari pada senior UKM tersebut berlangsung pada hari ke 2.

"Kondisi saya sebelum diksar memang lagi sakit karena sempat dirawat dua hari sebelum ikut," ujar RDP di Mapolda Lampung Rabu 18 September 2019.

Ia mengaku memang sudah tak kuat untuk mengikuti agenda hingga selesai, dan selalu ditanya oleh senior dari UKM tersebut siapa yang tidak kuat, dan izin pulang. Penganiayaan berlangsung beberapa kali setiap sesi diksar.

"Tiap saya ngangkat saya malah dipanggil dan dipisahin, saya dipukulin, nantk masuk barisan lagi, jadi setiap ada sesi saya selalu bilang enggak kuat, saya dibawa ke Hutan dipukulin," katanya.

Puncaknya pada Sabtu malam, RDP dibawa oleh 5 orang seniornya  yakni A, F, D alias F, dan G, ke hutan dan dipisahkan dari peserta serta alumni. Namun seniornya A hanya menyaksikan, tidak ikut menganiaya.

"kaca mata saya diambil dan menggebukin saya sampai pingsan. Saya dipaksa bangun, ditendang-tendang, katanya enggak usah pura-pura pingsan. Laki-laki kok lemah kata mereka, kalau alumni baik malah enggak mukulin dan nasehatin," katanya.

Ia pun merasa takut dan mendapatkan intimidasi oleh seniornya sehingga takut untuk berkuliah.

Ibu  RDP Novi Ursal  (49) berharap agar penganiayaan tersebut ditindak tegas oleh aparat, dan pihak Kampus. Ia juga telah membawa bukti visum di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek.

"Kalau fisik-fisik, ya biasa saya masih terima, tapi kalau sampai pemukulan kan berujung pidana, anak saya itu bibirnya pecah ditonjok, kukunya hampir lepas, kepalanya ditendang dada ditonjok, perut diinjak, nggak manusiawi," katanya. 

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

TAGS


KOMENTAR