SEJAK tembus ke level di bawah Rp14.000 per dolar AS Jumat sore (12/7/2019), rupiah pekan ini bertahan parkir di level Rp13.900 per dolar AS. Setelah ditutup pada Rp13.999 Jumat petang, Senin (15/7) pagi rupiah dibuka menguat pada Rp13.990 per dolar AS, dan di pasar spot ditutup pada Rp13.920 atau menguat 0,63%.

Meski tipis, Selasa pagi rupiah masih terus menguat ke Rp13.918 per dolar AS, dengan potensi mampu bertahan di level Rp13.900 untuk menunggu sentimen positif buat menguat lebih baik lagi pekan berikutnya.



Rupiah menguat signifikan berkat faktor domestik maupun ekternal. Faktor domestik diumumkannya akhir pekan lalu surplus neraca perdagangan dua bulan berturut-turut. Setelah bulan Mei surplus 210 juta dolar AS, Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan pada bulan Juni kembali surplus 198 juta dolar AS.

Kondisi tersebut memperkuat perekomomian nasional, setelah di sektor moneter cadangan devisa juga sejak akhir bulan lalu telah kembali menjadi 123,82 miliar dolar AS. Cadangan devisa ini telah pulih dari kemerosotan hingga 114 miliar dolar AS ketika gonjang-ganjing rupiah terperosok ke Rp15.200 per dolar AS.

Sedangkan dari segi politik, pertemuan Presiden Jokowi dan Prabowo di MRT Sabtu pagi, menekan nyaris ke titik nadir potensi konflik nasional dalam jangka menengah, sehingga rupiah menjadi amat kondusif pekan ini. Jika tak ada masalah yang luar biasa, potensi rupiah untuk terus menguat terbuka oleh situasi politik yang makin sejuk.

Sedangkan untuk faktor eksternal, ada dua hal yang kondusif bagi rupiah. Pertama, meski pertumbuhan ekonomi Tiongkok 6,2% kuartal II 2019, terendah sejak 1992, kenaikan pertumbuhan industri 6,3% pada Juni yang lebih tinggi dari Mei, ritel yang naik 9,8%, dan lonjakan penjualan mobil 17,2%, menyisakan peluang bagi Indonesia selaku pemasok bahan baku.

Sedang kabar baik dari AS, pidato Gubernur The Fed di Senat mengisyaratkan rencana penurunan suku bunga The Fed dua kali atau lebih tahun ini. Ini sekaligus bakal mendorong arus masuk dana ke obligasi dan pasar saham.

Namun demikian, peringatan dari Biro Statistik Tiongkok layak disimak bahwa ekonomi mereka tetap dalam situasi yang kompleks, dengan ketidakpastian eksternal meningkat. Artinya, perisai agar ekonomi kita tak mudah masuk angin dan bantalan menjaga kenyamanan dari guncangan global, perlu dipasang dalam sistemnya. Contohnya, segera mainkan biodiesel B100 untuk mengobati defisit impor migas yang kronis. ***

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR