BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat diprediksi akan terus bergerak menguat hingga tahun 2019 mendatang. Prakiraan itu berdasarkan sentimen positif dan kebijakan-kebijakan strategis baik yang dikeluarkan pemerintah, Bank Indonesia, maupun lembaga terkait lainnya.

Kepala Tim Advisory Ekonomi dan Keuangan Bank Indonesia KPw Lampung,  R. Eko Adi Irianto, Rabu (12/9/2018), menjelaskan melihat perkembangan perekonomian Indonesia saat ini, BI berkeyakinan rupiah akan bergerak stabil dan cenderung memiliki penguatan terhadap dollar amerika di level Rp14.300 hingga Rp14.700.



Angka itu diprediksi bisa diraih setelah berbagai kebijakan yang diambil pemerintah dan BI dalam upaya menstabilkan rupiah. Mulai dari menaikkan suku bunga hingga 125 basis poin yang dinilai menjadi 
kenaikan yang cukup agresif untuk menghindari rupiah kurang menarik dan menjaga investor, serta langkah intervensi ganda di pasar valuta asing (valas).

"Lalu kebijakan intrument swap valas dengan menurunkan biaya dan syaratnya lebih dipermudah, relaksasi makro prudensial untuk menjaga kecukupan likuiditas, dan memperkuat sinergi dan koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan, pemerintah, pelaku bisnis, dan lembaga keuangan terkait," kata Eko di kantor BI perwakilan Lampung.

Tren positif terhadap mata uang Indonesia itu semakin terdukung dengan kebijakan pemerintah dalam menaikkan PPh impor terhadap produk yang semestinya bisa diproduksi didalam negari, pembatasan atau penjadwalan ulang pembangunan infrastruktur, dan mendorong pengembangan pariwisata.

Terlebih, portofolia manager terbesar dunia, yaitu Black Rock menilai intrumen keuangan Indonesia paling positif dan investor diyakini tidak akan lari. Sementara, Bloomberg pun mengeluarkan rating tujuh negara yang riskan capital of low dan berisiko dinilai tukar, yaitu Srilanka, Afrika Selatan, Argentina, Pakistan, Mesir, Turki, dan Ukraina.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR