Jakarta (Lampost.co) -- Gerak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Jumat pagi terpantau melemah tipis dibandingkan dengan perdagangan sore di hari sebelumnya di posisi Rp13.318 per USD. Perlu ada sejumlah sentimen positif agar nilai tukar rupiah tertahan untuk tidak terhempas di jalur negatif.

 



Mengutip Bloomberg, Jumat 28 Juli 2017, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi dibuka di posisi Rp13.322 per USD. Day range nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp13.316 per USD hingga Rp13.324 per USD dengan year to date return di minus 1,15 persen. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nialai tukar rupiah berada di posisi Rp13.121 per USD.

Analis Samuel Sekuritas Rangga Cipta mengatakan, usai disahkannya Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBNP) 2017, yang menghasilkan defisit yang lebih lebar, inflasi menjadi fokus berikutnya. Inflasi Juli 2017 diperkirakan turun sedikit di bawah empat persen YoY seiring dengan meredanya efek permintaan tinggi di sepanjang Ramadan.

"Tren penguatan nilai tukar rupiah akan bertahan walaupun kuatnya dolar Amerika Serikat (USD) semalam, bisa membatasi," kata Rangga, seperti dikutip dari riset hariannya, di Jakarta.

Harga minyak konsisten naik dan revisi Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat (AS) ditunggu. Harga minyak mentah konsisten naik merespons data pertambahan persediaan minyak AS yang turun. Tetapi mayoritas imbal hasil global masih turun kecuali imbal hasil UST di mana ada ekspektasi revisi naik pertumbuhan PDB AS kuartal II-2017 yang dirilis Jumat malam.

"Sentimen pelemahan USD di pasar Asia diperkirakan sedikit tertahan," kata Rangga.

Sementara itu, imbal hasil global masih konsisten turun dengan sentimen dovish yang dicerminkan oleh pernyataan Yellen sehari sebelumnya. Akan tetapi konsistensi kenaikan harga minyak global bisa mengangkat ekspektasi inflasi global sehingga ruang penurunan imbal hasil obligasi bisa turun.

EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR