KEBIJAKAN Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin, didukung berita pemerintah membayar THR dan gaji bulan ke-13 PNS yang mencerminkan keuangan negara kuat dan sehat, membuat rupiah kembali menguat hingga awal pekan meninggalkan jauh level Rp14.200/dolar diikuti IHSG kembali ke atas level psikologis 6.000.

Tepatnya, pada pukul 09.45, Senin (28/5), IHSG naik 0,87% menjadi 6.027,79. Sedang rupiah, data Bloomberg pukul 09.46 menguat 120 poin ke posisi Rp14.005 per dolar AS, menguat 0,69% dibanding dengan penutupan akhir pekan pada Rp14.125.



Geliat penguatan rupiah tampak sejak Kamis (24/5) yang terus menjauh dari level Rp14.200 per dolar AS, diikuti IHSG yang kian mendekati level psikologis 6.000. IHSG hari Kamis itu ditutup melonjak 254,54 poin atau 2,67% ke level 5.946,54. Sedang rupiah hari itu ditutup di posisi Rp14.133 per dolar AS dibanding dengan hari sebelumnya Rp14.209.

Cerminan kuat dan sehatnya keuangan negara yang secara moneter ditunjukkan dengan kesiapan menaikkan suku bunga acuan kapan saja dan secara fiskal tampak dengan mudah pemerintah menggelontorkan Rp35,76 triliun untuk membayar THR dan gaji bulan ke-13 PNS, bahkan juga memecahkan rekor untuk pertama kali pensiunan mendapat sekaligus THR dan gaji bulan ke-13, menjadi impresi yang amat kuat bagi rupiah dan IHSG di pasar.

Apalagi hal itu sebagai bukti penilaian berbagai lembaga pemeringkat investasi dan utang internasional yang menaikkan setingkat lagi penilaian kondisi ekonomi Indonesia dari layak investasi (investment grade) atau dari positif ke level stabil. Artinya, kondisi ekonomi Indonesia yang demikian baik di mata lembaga pemeringkat internasional itu harus ditunjukkan otot-ototnya kepada pasar yang penilaiannya cenderung terganggu oleh provokasi prasangka buruk yang belakangan dipaksakan lewat berbagai pernyataan bombastis.

Show of force kuat dan sehatnya keuangan negara diperlukan, lebih-lebih pada tahun politik di mana framing, pemberian bingkai prasangka buruk untuk setiap apa saja, sekali lagi setiap apa saja, yang datang dari pemerintah. Apa saja, kebijakan, ucapan, atau isyarat saja pun, setiap datang dari pemerintah langsung dibingkai dengan prasangka buruk yang kemudian secara sistematis diviralkan.

Betapa dahsyatnya framing prasangka buruk itu, bukan hanya memengaruhi masyarakat, bahkan pasar pun yang semestinya serba rasional bisa terseret hingga rupiah dan IHSG nyaris rontok dibuatnya. ***

 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR