SHANGHAI (Lampost.co) -- Mencari rumah makan berlebel halal sangat mudah di Tiongkok. Jika bepergian ke Beijing, Taiyuan, Wu Tai Shan, dan Shanghai, serta Shanjiang banyak dikelola dengan syar'i -- hukum Islam. Apalagi di Shanghai jumlahnya sangat banyak.

"Di depan pintu masuk tertera tulisan halal dengan huruf Arab," kata Tom, pemandu wisata yang mendampingi kunjungan para pimpinan media dari Lampung, di Shanghai, Jumat malam (16/8/2019).



Di Shanghai ada rumah makan berlebel halal.  Yakni Xi Bei Feng Wei dan Guan Guan Ji yang beralamat di Ren Min Guang Chang Hanghai.

Begitu juga di Taiyuan, Ibu Kota Shanxi, berlebel halal namanya Rumah Makan Ren Yi Li dan di kawasan Wu Tai Shan bernama Yi Zhan Ming Deng.

Kalaupun tidak halal, disediakan  ruangan khusus untuk muslim makan di situ. Sangat toleransi dalam kehidupan beragama di negeri Tiongkok.

Maklum, masakan di Tiongkok masih asing di lidah dan perut. Pemandu wisata selalu menjelaskan makan ada juga yang disediakan tidak mengandung hewan terlarang seperti rumah makan di kawasan wisata, budaya, maupun di pusat belanja.

 

Tapi lidah dan perut ini tidak bisa dibohongi. Mungkin belum beradaptasi dengan makanan khas negeri tirai bambu.

Saking ingin tetap enak dan kenyang di setiap makan siang dan malam, ada dari rombongan pimpinan media membawa mie instan, kecap, dan sambel dari Indonesia.

"Saya sengaja bawa bumbu kecap dan sambal ini supaya tetap selera makan," kata Purnawirawan, wartawan Radar Lampung, Senin (12/8/2019).

Wartawan Lampung Post, Iskandar Zulkarnain yang ikut serta dalam rombongan ke Tiongkok itu juga tidak lupa membawa kopi, kecap, sambal dalam bentuk sachet, serta mie instan dalam jumlah 10 bungkus.

Semua makanan yang dihidangkan sesuai pesanan. Tak lupa selalu memesan bawang putih setiap mau menyantap daging. Maklum, makanan mengandung kolestrol tinggi.

Ternyata setiap kali menyantap di rumah makan, selalu disediakan minuman bir. "Bir lebih murah dari air mineral," kata Staven Cheng, sekretaris Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Lampung yang ikut mendampingi rombongan.

Staven pun selalu menjelaskan makanan-makanan yang boleh disantap, dan dilarang. Bahkan kali pertama makan siang di Beijing, pop mie menjadi santapan kali pertama.

Setelah dijelaskan mengapa harus membawa mie instan dan kecap, Staven memakluminya. Makanan yang dibawa dari Tanah Air itu menambah selera makan.

 

"Ketika berangkat haji ke Mekah dan bepergian ke Australia, saya tidak lupa membawa mie, kecap, dan sambal,"    kata Iskandar beralasan kepada Staven.

Memang menu makanan selalu dijaga agar sehat dan tetap bugar dalam perjalanan. "Alhamdulillah, selama di Tiongkok tidak ada yang terserang penyakit atau kena flu," kata Staven.

Selama di negara panda yang ada hanya kecapekan, karena menyusuri tempat-tempat bersejarah seperti di Wu Tai Shan, daerah pegunungan yang menyimpan banyak peninggalan sejarah bagi agama konghucu dan budha. Mengelilingi kuil atau vihara dengan berjalan kaki.

Ada yang membuat tentram dan lega,  ketika salat di masjid Kota Shanghai. Jemaah diingatkan oleh pengurus masjid, betapa petingnya hidup sehat dan keteraturan makan, apalagi hewan yang ingin disantap -- disembelih dengan menyebut nama Tuhan (Bismillahi Allahuakbar).

Yang membuat gembira ketika berada Shanghai, banyak orang muslim dan makanan khas Timur Tengah, termaduk di Bandara Internasional Shanghai menyediakan makanan beraroma Mesir dan Arab Saudi.

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

TAGS


KOMENTAR