KALIANDA (Lampost.co)-- Warga Dusun III, Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Apriansyah mengalami duka mendalam. Ia hanya bisa melamun. Pandangannya kosong saat diajak berbicara. Tatapannya kosong memandang lautan. Sesekali ia menyeka air mata yang menetes lantaran mengingat kebersamaan dengan keluarga di rumahnya yang telah rata tersapu ombak. Duka Apriansyah ketika tiga anggota keluarganya meninggal dunia saat tsunami melanda Selat Sunda Sabtu (22/12/2018) malam. Ayah Apriansyah, Masjaya (54), Ibu Eliana (45), dan Nenek Rumsiah (80) meregang nyawa diterjang ombak dan puing-puing bangunan. "Di rumah ada 9 orang, saat kejadian kami semua di rumah karena itu jam-jamnya istirahat. Tiba-tiba ombak datang. Yang pertama tidak begitu besar. Tidak lama, ombak kedua datang, tinggi sekali melebihi tinggi rumah," ujarnya saat tim Lampung Post memberikan bantuan Dompet Kemanusiaan Media Group di Pesisir Lampung Selatan, Minggu (30/12/2018). Ia menceritakan dirinya telah merencanakan pernikahan di awal Februari 2019 mendatang. Akhir tahun ini seyogianya ia mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan jelang hari istimewanya. Namun takdir tak berpihak, ia masih larut dalam duka. "Harusnya sudah siap-siap. Tapi mau bagaimana? Orangtua sudah pergi, rumah pun tidak ada," katanya.  Jangankan berfikir tentang pernikahannya, saat ini, Apriansyah mengaku tidak tahu bagaimana melanjutkan hidup. Satu-satunya kapal yang ia gunakan untuk menyambung hidup pun, hancur berkeping-keping. Sejak kejadian tsunami, ia lebih banyak merenung. Luka-luka di sekujur tubuh pun sudah tidak lagi dirasa. "Seandainya kapal masih ada, mungkin saya masih bisa melaut," katanya. Apriansyah dan nelayan lain yang tinggal di bibir pantai Desa Way Muli mengungsi di kaki gunung. Saat ini mereka mengandalkan bantuan dari para donatur untuk bertahan. Ia berharap pemerintah memberi bantuan kapal dan membangun kembali rumahnya. "Kalau bisa tetap di pinggir pantai saja, di situ kita cari makan, kalau di pindah jauh dari laut kami bingung," tutupnya.
loading...

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR