"REMAJA-REMAJA kami sudah lelah. Mereka tumbuh menyaksikan penistaan dan penyiksaan. Kini mereka memiliki konsensus jika tak melawan, mereka tidak akan memberikan hak kami," ujar aktivis Rohingya di pengungsian Bangladesh.  

Setelah bertahun-tahun, mereka menjadi korban pembantaian militer Myanmar, muslim Rohingya menjawabnya dengan kata lawan. Bersenjata senjata tajam, bom, dan senjata api rakitan, muslim Rohingya menyerang pos militer Myanmar.



Serangan itu sebagai titik awal Rohingya melawan yang menewaskan puluhan polisi, Jumat (25/8). Pemuda Rohingya tergabung dalam kelompok militan, Arakan Rohingnya Salvation Army (ARSA) atau Tentara Pembebasan Rohingya Arakan.

Militer Myanmar menjawab serangan itu dengan operasi pembersihan seluruh warga Rohingya di Negara Bagian Rakhine. Seperti dilaporkan Kantor Berita Agence France-Presse (AFP), seorang tokoh adat Rohingya, Shah Alam, mengakui rakyat Rohingya tidak punya pilihan lain kecuali melawan.

“Mereka lebih memilih bertarung dan mati daripada dibantai seperti sapi," ujar Shah.
Hanya bersenjata seadanya, ratusan warga Rohingya tidak akan surut melawan militer Myanmar. Mereka bersembunyi di bukit-bukit. Putra Rohingya telah bersumpah menyelamatkan Arakan meski menggunakan tongkat dan pisau. Sumpah lelaki itu membuat telinga Aung San Suu Kyi menjadi merah.

Pemimpin de-facto Myanmar menuding ARSA sebagai kelompok teror melibatkan anak-anak.

Bagi mereka, melawan kebiadaban sudah menjadi pilihan terakhir. Adalah Ayesha Begum harus rela ditinggalkan suaminya yang berjuang melawan militer Myanmar bersama-sama warga Rohingya lainnya. Begum tengah hamil tua menanti kelahiran anak di kamp pengungsian Bangladesh. Wanita yang berusia 25 tahun itu mengungsi ke Bangladesh usai militer Myanmar menggelar operasi besar-besaran sejak Jumat (25/8/2017).

Begum bertutur bahwa suaminya mengucap selamat tinggal. “Katanya, jika kita tidak bisa bertemu lagi di Arakan, kita akan bertemu di surga," ucap sang istri.

Penindasan terhadap muslim Rohingya sebenarnya tidak terjadi kali ini saja. Dari beberapa literatur, Rohingya telah mendiami Rakhine sejak abad ke-7, tetapi sebagian lainnya menyebut sejak abad ke-16.
Nenek moyang Rohingya merupakan campuran dari Arab, Turki, Persia, Afghanistan, Bengali, dan Indi-Mongoloid.

Rohingya merupakan komunitas paling diburu di dunia. Orang Myanmar menyebut mereka sebagai Bengali. Terakhir, nama Bengali diganti dengan Rohingya karena alasan politik. Dalam catatan sejarah, selama pemerintahan kolonial Inggris (1824—1948) terjadi migrasi dalam jumlah besar dari India dan Bangladesh ke Rakhine.

Hubungan buruk kaum Islam dan Buddha di Arakan mulai terjadi pada abad ke-15. Bahkan, pada 1785, Myanmar menduduki Rakhine dan membantai ribuan kaum Islam. Pada masa Perang Dunia II, Inggris pun mempersenjatai Rohingya untuk menghadapi serbuan musuh—Jepang. Belakangan terjadi konflik komunal antara Rohingya dan umat Buddha. Banyak biara, pagoda, dan rumah warga Buddha dihancurkan Rohingya.

***

Dilaporkan British Broadcasting Corporation (BBC), Myanmar mengklaim kekerasan yang terjadi pada 25 Agustus dipicu serangan ARSA. Kelompok militan ini dipimpin oleh Ata Ullah atau Ataullah Abu Ammar Jununi, warga Rohingya yang lahir di Pakistan lalu besar di Arab Saudi.
International Crisis Group (ICG) berpendapat ARSA dibentuk pascaaksi kekerasan yang meletus pada 2012. Mereka mendapat pelatihan militer di luar Myanmar.  Kelompok militan ini menolak dikaitkan dengan anggota jihadis. Mereka hanya berjuang agar keberadaan warga Rohingya diakui sebagai salah satu kelompok etnik di Negeri Zamrud Asia ini.

Warga muslim Rohingya di Negeri Pagoda Emas itu tercatat berjumlah 1,1 juta dari 52 juta penduduk Myanmar. Negara ini mayoritas berpenduduk beragama Buddha. Sungguh tragis, walau bertempat tinggal dan beranak pinak di Arakan, warga Rohingya hidup tanpa status kewarganegaraan Myanmar. Mereka dianggap imigran ilegal dari Bangladesh.

Dari beberapa literatur, warga Rohingya ini telah berdiam di Rakhine sejak abad ke-7. Sebagian menyebut sejak abad ke-16. Nenek moyang Rohingya merupakan campuran dari Arab, Turki, Persia, Afghanistan, Bengali, dan Indi-Mongoloid.

Dalam buku Burma: A Nation at the Crossroads yang ditulis Benedict Rogers, secara terang benderang menyebutkan di era diktator Ne Win, pihaknya menyingkirkan warga muslim, kristen, dan etnik lainnya.

Di era Perdana Menteri (PM) Ne Win sekaligus pemimpin militer Myanmar, pemerintahan ini secara sistematis melucuti kewarganegaraan Rohingya.

Dimulai dari pemberlakuan UU tentang Imigrasi Darurat tahun 1974 dan UU Kewarganegaraan 1982. Sejak itulah, hak-hak Rohingya terang-terang dilucuti, baik dokumen pendidikan, kepemilikan tanah, maupun perkawinan.

Sebenarnya sejak 1962, Myanmar mulai melucuti Rohingya dari berbagai hak. Itulah Myanmar. Dalam sejarah berdirinya negara, Myanmar atau Burma yang pernah dijajah Inggris tidak pernah damai. Kepala Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Zeid bin Ra'ad Zeid al-Hussein memperingatkannya. Badan dunia ini mengecam tindakan yang sistematis dari militer Myanmar terhadap minoritas Rohingya.

Tragedi kemanusiaan yang dihadapi muslim Rohingya cenderung genosida. Dunia tidak menutup mata dan telinga. Mereka membutuhkan bantuan, bebas menghirup udara segar Bumi Arakan. Kini 1,1 juta dari tujuh juta populasi Rohingya menunggu penyelamatan.

Puluhan tahun merindukan kebebasan. Ingin hidup nyaman dan sejahtera. Muslim Rohingya tidak ingin mengakhiri hidup di depan moncong senjata, menahan siksaan militer.  ***

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR