BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Paham radikalisme memang harus dilawan dan di waspadai, khususnya pertumbuhannya di kampus.

Berdasarkan data dari BNPT di tahun 2017, Lampung masuk dalam lima provinsi dengan tingkat potensi radikalisme cukup tinggi. Lima provinsi tersebut adalah Bengkulu (58,58%), Gorontalo (58,48%), Sulawesi Selatan (58,42%), Lampung (58,38 ?), dan Kalimantan Utara (58,30%). 



Hasil survey lainnya terhadap pelaku terorisme menunjukkan bahwa para pelaku tindakan tersebut juga mengenyam pendidikan beragam, yaitu lulusan SMA (63,6%), DO (drop out/dikeluarkan) dari perguruan tinggi (5,5%), dan lulusan perguruan tinggi (16,4%). Strategi penyebaran ideologi radikal yang dilalukan para pelaku melalui komunikasi langsung, perkawinan, kegiatan dakwah, penerbitan buku, jalur pendidikan, dan media internet. 

Karenanya, Direktorat Intelkam Polda Lampung melakukan sosialisasi dan penyuluhan antiradikalisme kepada 6.000 mahasiswa baru Universitas Lampung (Unila) di GSG Unila, pada Selasa (13/8/2019).

Kasubdit Kamneg Direktorat Intelkam Polda Lampung AKBP Akbar Ahmad Defyudi mengatakan kegiatan pemahaman antiradikalisme tersebut bagian dari rangkaian kegiatan dari Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di Unila.

"Memang ada kepedulian dari Polda Lampung untuk mencegah paham radikalisme kepada mahasiswa terutama yang baru masuk," ujarnya, Selasa (13/8/2019).

Penyebaran paham radikalisme menjadi ancaman utama, karena pola brain wash uang dilakukan oleh para penyebar paham radikal. "Mahasiswa bisa mempunyai daya tangkap, daya tolak. Supaya daya paham itu menolak dan menyebar meluas di lingkungan mahasiswa," katanya.

Pendekatan keilmuan, diskusi dan berbagai kegiatan positif lainnya, yang dibimbing oleh pihak Kampus, merupakan langkah untuk membentengi diri para mahasiswa dari paham radikal. "Potensi paham radikalisme ini memang ada dimana-mana jadi tinggal kita peka saja terhadap lingkungan, agar mereka (mahasiswa, red) bisa tidak terpengaruh dengan itu," katanya.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR