INDUSTRI sawit nasional terusik atas penolakan Uni Eropa terhadap komoditas ini. Masyarakat benua biru menuding produk minyak nabati dari olahan sawit tidak ramah lingkungan dan bertentangan dengan konsep lingkungan berkelanjutan.

Pemerintah Indonesia mesti terus mempromosikan dan memfasilitasi pertumbuhan sektor sawit karena menyangkut penghidupan petani. Fokusnya adalah sawit yang diproduksi, diolah, dan diekspor adalah sawit yang berkelanjutan.



Berdasarkan roundtable sustainable palm oil, Indonesia merupakan penghasil terbesar minyak sawit bersertifikat di dunia dengan produksi 6,5 juta ton atau 52% dari 12,65 juta ton total produksi minyak sawit bersertifikat global. Pemerintah perlu bergerak maju menerapkan solusi-solusi agar sektor sawit profit secara ekonomi, memperhatikan aspek sosial, dan ramah lingkungan. Hal itu untuk memenuhi Deklarasi Amsterdam yang mendukung penerapan 100% sustainable palm oil.

Memang, kehilangan pasar di Eropa tidak menjadi kekhawatiran. Pangsa pasar baru di luar Eropa mengalami pertumbuhan. Berdasar data BPS dan Kementerian Perdagangan pada 2018, India menjadi tujuan ekspor utama dengan jumlah pengiriman 6.714 ribu ton.

Namun, pemboikotan Uni Eropa patut menjadi sinyal kuat industri sawit di Tanah Air perlu direstorasi. Tidak menutup kemungkinan di masa mendatang, hal ini tidak hanya terjadi di Eropa, tetapi meluas ke negara-negara benua lainnya.

Terlebih, beberapa tahun belakangan, terjadi kebakaran lahan gambut yang umumnya untuk perkebunan sawit. Upaya pemulihan ekosistem gambut rusak di Indonesia jelas tanggung jawab pemerintah. Industri sawit perlu diarahkan agar berwawasan lingkungan.

Untuk itu, kita apresiasi Peraturan Presiden Republik Indonesia No.1/2016. Aturan ini mengamanahkan pembentukan Badan Restorasi Gambut. Badan ini bertujuan memulihkan ekosistem gambut, mencegah berulangnya kebakaran hutan dan lahan, serta dampak asap.

Perbaikan industri persawitan juga berlaku di Lampung. Pemerintah Provinsi berencana menyertifikasi perkebunan sawit agar bersertifikat berwawasan lingkungan. Konsepnya adalah sawit hijau yang ditanam di lahan yang tidak dilarang dan tidak merusak lingkungan.

Hal itu selaras dengan program peremajaan perkebunan sawit. Tahun kemarin pemerintah meremajakan 500 ha di Kabupaten Tulangbawang. Menyusul kemudian di Lampung Tengah, Tulangbawang, Tulangbawang Barat, Way Kanan, Lampung Selatan, Lampung Utara, dan Pesawaran, dengan total 9.685 ha pada tahun ini. 

 

 

 

 

BERITA LAINNYA


EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR