LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 6 July
4997

Tags

LAMPUNG POST | Rempah-Rempah
D. Widodo, wartawan Lampung Post. Lampost.co

Rempah-Rempah

BEBERAPA tragedi besar terkadang bermula dari hal sepele. Pada Selasa, 28 Januari 1986, pesawat ulang-alik Challenger meledak 73 menit setelah lepas landas dari John F Kennedy Space Center di Florida, Amerika Serikat.
Pesawat tersebut hancur berkeping-keping dan tenggelam di lepas pantai Samudera Atlantik. Tujuh astronot tewas. Komisi Rogers yang bertugas menyelidiki tragedi tersebut menemukan penyebab meledaknya Challenger adalah lepasnya cincin-O, sebuah benda kecil berbentuk lingkaran yang terbuat dari karet. Akibatnya, salah satu dari mesin roket pendorong menjadi miring dan menggores badan pesawat. Goresan itulah yang menimbulkan percikan api dan menyambar ke tangki bahan bakar.
Tanpa disangka tragedi besar NASA disebabkan masalah sepele. Sama sepelenya dengan penyebab kolonialisme/imperialisme di Indonesia. Bukan gold, glory, gospel yang utama. Tiga unsur itu hanya penumpang yang membonceng di belakang hari. Penyebab utamanya adalah tanaman rempah-rempah, soal citarasa makanan.
Entah berkah atau sumber musibah, Nusantara menjadi negeri tropis yang subur dan cocok ditanami berbagai jenis rempah-rempah. Sebut saja, lada, pala, cengkih, kayu manis, kapulaga, asam, andaliman, bunga lawang, jinten, ketumbar, dan berbagai jenis tanaman rimpang. Rempah-rempah tidak cocok ditanam di daerah subtropis. Padahal, masyarakat di sana sangat gandrung makanan berbumbu rempah. Rempah-rempah itu pula yang mendorong bangsa Eropa menguasai kepulauan Nusantara selama ratusan tahun. Pemerintah Belanda memberikan privilese kepada VOC untuk memonopoli tata niaga rempah di Maluku. Privilese itu antara lain rakyat Maluku dilarang menjual rempah-rempah selain kepada VOC, jumlah tanaman rempah-rempah ditentukan VOC, dan tempat menanam rempah-rempah juga ditentukan VOC.
Ada yang bilang "barang sepele dadi gawe", karena ring-O copot, Challenger hancur berkeping-keping. Karena ingin terus menikmati sepiring makanan lezat berbumbu rempah-rempah, orang Eropa berlayar ribuan mil ke arah timur untuk menjajah sebuah negeri subur makmur.
Di negeri ini, rempah-rempah yang dulu diincar bangsa Eropa ternyata tidak termasuk bahan pokok strategis, seperti beras, gula, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, tepung terigu, dan telur ayam. Orang lebih mempersoalkan kenaikan harga minyak goreng atau daging sapi ketimbang harga rempah-rempah.
Tidak banyak ibu-ibu yang mengeluh kalau harga pala atau lada naik drastis. Itu karena rempah-rempah tidak masuk hitungan pengeluaran yang berarti. Tapi, yang tidak masuk hitungan itulah yang dulu membuat bangsa lain tertarik menguasai negeri ini. Hal-hal sepele yang tidak masuk hitungan acap menjadi subjek yang menentukan.

LAMPUNG POST

BAGIKAN


TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv