BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Setelah beberapa kali Majelis Hakim melakukan pemanggilan terhadapan Rektor Universitas Lampung, Hasriadi Matakin, akhirnya pada Kamis (16/11/2017), Rektor Unila memenuhi panggilan majelis untuk memberi keterangan dalam perkara dugaan pencemaran nama baik yang dilakukan Maruli Hendra Cahya.

Di hadapan Majelis Hakim Pengadina Negeri Tanjungkarang, yang dipimpin Nirmala Dewita, Hasriadi Matakin menuturkan dia mengetahui postingan yang mencemarkan nama baiknya dari stafnya bernama Yodi. "Dari staf saya, pak Yodi, setelah mendapat laporan, saya cek di dalamnya ada menyebut saya selaku bandit tua," ujar Rektor.
"Saya dibilang bandit dan bodoh, langkah saya saat itu saya pertama memanggil dekan untuk meyelesaikan ini. Kemudian saya juga memanggil Dadang untuk klarifikasi. Saya ini rektor yang membawahi 1.200 dosen, menurut saya tidak pantas dia meyebut saya sebagai penjahat," kata Hasriadi.
Menurut Rektor ini, masalah Dadang sudah dua tahun, sebelum dirinya  menjadi rektor. "Persoalan Dadang itukan sudah dua tahun lalu seblum saya jadi rektor, jadi bukan ranah Unila juga menyelesaikan urusan KPU," katanya.
"Persoalan pemilihan dekan itu bukan hak saya. saya hanya melakukan pertimbangan layak atau tidak itu urusan fakultas masing-masing perkara milih atau tidak, bukan saya yang melakukanya," kata dia.
Hakim Ketua mempertanyakan apakah akan memaafkan terdakwa?, Hasriadi mengatakan dia tidak akan memaafkan terdakwa. Menurutnya, terdakwa setelah mencorengkan nama baik keluarganya. "Secara pribada boleh, tapi ini sudah mencoreng nama besar keluarga, semua orang tau persoalan ini termasuk anak saya di Australia dan Ameriaka yang tengah sekolah, semua dosen juga tahu dan persoalan ini sudah viral," katanya.
"Soal badit tua ini menurut saya luar biasa. Hanya karena persoalan pengangkatan dekan. Bandit itu kan penjahat. Biarkanlah hukum yang berjalan. Nama saya sudah hancur, saya menyerahkan proses ini secara hukum," katanya.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR