BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Kapolri Jenderal M. Tito Karnavian ternyata menyebutkan, pola doktrinisasi dan pemaparan paham radikal berujung terorisme kini massif dilakukan via sosial media. Hal itu memanfaatkan kebebasan berekspresi dan kemajuan teknologi, hingga merubah mindset yang melegalkan upaya kekerasan.
"Kalau dulu face to face, sekarang namanya leaderless jihad, cukup dapat ideologi dari sosial media. Bahkan di baiat lewat video call," ujar Kapolri kepada awak media di Makorem 043 Garuda Hitam, Senin (6/4/2018).
Karena upaya penindakan, juga hanya bersifat represif dan seperti memotong gunung es, yang tak tampak bawahnya. Pelru ada upaya sistematis dari seluruh Element, ulama, masyarakat TNI Polri, hingga keluarga untuk melawan ideologi tersebut.
"Ideologi radikal, laeannya bukan ditangkap tapi dilawan dengan ideologi (deradikalisasi),baru bisa terputus mata rantainya," katanya.

Tito juga membenarkan ada beberapa jaringan JAD, yakni lima orang yang diamankan di Lampung. Namun, JAD Lampung bukan jaringan besar. "Di Lampung ada tapi bukan yang utama," katanya.
Karenanya pihaknya saat ini fokus melakukan pengamanan di empat titik menjelang Perhelatan Asian Games.
"Kita fokus ke Sumatera Selatan, Banteng ,Jawa Barat, dan DKI Jakarta," katanya.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR