GEDUNG pameran Taman Budaya Provinsi Lampung beberapa hari ini lebih berwarna dan ramai. Sebanyak 36 karya lukisan dipamerkan sejak 26 Juli hingga 4 Agustus mendatang. Menawarkan wahana rekreasi seni yang makin sulit dijumpai masyarakat.

Sebuah lukisan berukuran 150 cm x 150 cm berjudul Di Mana Lampungku karya Bunga Ilalang menjadi lukisan yang menyambut kedatangan setiap pengunjung. Sesosok perempuan muda dengan balutan kain tapis, tampak sedang duduk sambil membungkuk. Dari mimik wajahnya, perempuan berambut panjang itu sedang bersedih. Melangkah ke ruangan pameran, puluhan lukisan lain dengan berbagai bentuk dan warna terpasang rapi di setiap dinding pameran.



Di bagian belakang, pengunjung disuguhi sebuah lukisan yang tidak kalah menarik, dan unik karya Yulius Benardi.

Lukisan berjudul Anak Moyangku Bukan Penakut, divisualisasikan oleh Yulius dengan gambar seorang anak laki-laki yang sedang duduk di atas awan dengan buku di pangkuannya. "Lukisan itu menggambarkan segala sesuatu harus dipersiapkan, perlu belajar, dan harus menjadi seorang yang pemberani, berani dalam arti yang benar," kata Yulius.

Buku yang dipangku sang anak, menurutnya, menggambarkan setiap orang membutuhkan ilmu. Untuk bisa menjadi orang berilmu salah satu caranya adalah dengan membaca. "Membaca bisa apa aja, tidak harus membaca buku, dari internet, dan sebagainya. Namun pada lukisan itu saya gambarkan sebuah buku," kata dia.

Yulius menuturkan ide lukisan tersebut sebenarnya telah lama muncul. Namun, dia baru merampungkan lukisannya tiga hari sebelum mengikuti pameran.

"Kalau ide sudah dari 10 tahun lalu, saya catat, ketika ada momen dan waktu untuk mengaktualisasi tinggal bantu objek foto dan temanya juga pas dengan konsep yang diusung soal akulturasi," kata dia.

Yulius mengaku lukisannya mengusung konsep fun art yang membutuhkan pemikiran untuk bisa menikmatinya.

 

33 Pelukis

Kurator pameran, Joko Irianto, menyebut sedikitnya ada 33 pelukis asal Lampung yang ikut memamerkan karya lukis bertajuk Akulturasi. Akulturasi menjadi penjambaran dari penggabungan dua kebudayaan yang coba divisualisasikan para pelukis di atas kanvas.

"Tema ini kami ambil dengan melihat apa yang sedang digandrungi para perupa, apa yang sedang in bagi para perupa sehingga ini menjadi menarik," kata Joko, pekan lalu.

Pameran tersebut memberikan ruang seluas-luasnya kepada para perupa untuk berimajinasi sehingga hasil lukisan pun sesuai dengan kondisi kekinian.

Sebelum pameran lukisan, menurut Joko, pihaknya telah melakukan tahap seleksi yang diikuti sebanyak 38 pelukis. Dari jumlah tersebut terpilihlah 33 pelukis, yang sebagian merupakan pelukis-pelukis muda berbakat.

"Pameran ini, selain memberi ruang kepada pelukis remaja, muda, hingga tua, juga menjadi kesempatan bersilaturami dan mengenal Taman Budaya," ujar dia.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR