SUKADANA (Lampost.co)  -- Sejumlah rekanan peserta lelang proyek menduga adanya penghambatan pembangunan Kabupaten Lampung Timur (Lamtim) melalui dana alokasi khusus (DAK) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) yang sampai saat ini mengalami gagal lelang sebanyak dua kali pada masa lelang. Paket proyek itu sendiri bernilai Rp1,6 miliar untuk pembangunan gedung rawat inap kelas III di RSUD Sukadana.
Rekanan menenggarai Direktur RSUD Sukadana dr. Nanang Salman Saleh sejak awal mula proses pembangunan gedung rawat inap itu sengaja ditunda-tunda proses lelang. Upaya penundaan juga didukung Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Surya Edi.
"Kami menduga Direktur RSUD Sukadana menghambat pembangunan di lingkup kerjanya tersebut. Hal itu dikuatkan dengan pernyataan Dadan Darmansyah selaku ketua Kelompok Kerja (Pokja) V yang juga pegawai Dinas Informasi dan Komunikasi Lamtim," kata Hendra, salah satu peserta lelang.
Namun, pernyataan itu dibantah Dadan. Mewakili Direktur RSUD Sukadana dr.Nanang Salman Saleh, Dadan mengatakan lelang proyek gedung kelas tiga RSUD Sukadana dibatalkan karena masalah administrasi peserta lelang. "Lelang yang kedua untuk pembangunan gedung kelas tiga rawat inap RSUD Sukadana yang bersumber dari DAK dengan nilai Rp1,6 miliar itu terpaksa kembali dibatalkan lantaran administrasi para peserta lelang tidak ada yang lengkap," kata Dadan.
Terkait adanya upaya agar proses pembangunan tetap dilakukan melalui penunjukan langsung sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres), Dadan mengatakan sejak berkas hasil proses lelang dikembalikan kepada Satuan Kerja Perangkat  Daerah (SKPD) atau pihak RSUD Sukadana selaku pengguna anggaran, tanggal 17 September 2017 lalu, hingga tanggal 25 September 2017 belum ada pemberitahuan lebih lanjut terkait proses pembangunan gedung kelas tiga yang dibiayai DAK.

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR