PADA acara reses ke Desa Kanyoran (27/12), Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, saya merasakan kegembiraan yang ditularkan para ibu dan suami pasangan muda penerima program BSPS (Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya). Pertemuan dengan 300 pasangan muda tersebut dilakukan saat ada rapat pemantauan oleh para pendamping program bertempat di Balai Desa Kanyoran. 

Semua pasangan menyatakan telah menerima transferan langsung ke rekening masing-masing dan sebagian sudah melaporkan telah selesai pembangunan rumah baru mereka. Sementara beberapa pasangan meminta maaf karena sedang mengebut penyelesaiannya, apalagi mereka tahu bahwa BPK telah mengirim auditor untuk memeriksa pelaksanaan program tersebut ke lapangan.



Program baru yang diinisiasi pemerintah Jokowi-JK ini berjalan lancar, bahkan melampaui target hanya dalam waktu empat tahun pemerintahan. Dari 1 juta pembangunan rumah baru yang ditargetkan, hingga November 2018 yang lalu telah terbangun 1.041.323 unit rumah baru (melebihi target sebesar 4,3%). (Data dari Dirjen Perumahan Kementerian PU-Pera)

Para pasangan muda berterima kasih karena bisa lepas dari orang tua dan mempunyai kesempatan untuk mulai berlatih mandiri, bertanggung jawab, maupun mengembangkan identitas sebagai keluarga kecil yang lebih independen. Para ibu menjadi leluasa untuk menata rumah, mendidik anak, dan melayani suami sesuai gaya dan selera mereka.

Tujuan dari program yang sifatnya stimulan betul-betul terwujud. Dari bantuan dana Rp30 juta kemudian pasangan merogoh kocek dan tabungan mereka hingga 100% bahkan ada yang mencapai 300% meski dengan menjual sapinya. Tetapi mereka mengakui tanpa dana pancingan, mereka tidak tergerak untuk membangun rumah baru.

Pada pelaksanaannya, program juga menstimulasi gotong royong warga dan metode ini kemudian dipakai juga untuk hal-hal lainnya. Yang paling sering adalah bergotong royong untuk membangun rumah baru atau saat perbaikan rumah warga lain. Hal ini tentu mengurangi pembiayaan secara signifikan. 

Mekanisme bantuan yang diberikan secara nontunai (berupa material) membantu terjaganya akuntabilitas penggunaan dana. Tidak ditemukan kasus penyelewengan dana karena para pendamping yang ketat mengawasi pelaksanaan pembangunan rumah-rumah baru tersebut. 

Kabar gembira bagi para pasutri muda karena pemerintah akan melanjutkan program ini walau sudah mencapai target jumlah. Program ini bisa menjadi insentif agar orang tidak menikah di bawah umur karena ada syarat dari Kementerian PU-Pera bahwa yang bisa mengajukan bantuan hanya pasangan yang berusia 20 tahun ke atas sebagaimana ketentuan di UU Perkawinan.

 

BERITA LAINNYA


EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR