KALIANDA (Lampost.co)--Ribuan hektare tanaman padi usia 7 sampai 50 hari di kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan terancam kekeringan akibat kemarau. 
Pelaksana tugas BP3K kecamatan Ketapang, Herlan, mengatakan diperkirakan sekitar 1.634 hektar luas tanaman padi sawah tadah hujan tersebar di 17 desa se kecamatan Ketapang.  Namun dari jumlah tersebut masih bisa tumbuh dan panen karena mendapat pasokan air dari sumur bor. 
Sepanjang tahun ini,  beberapa sumur bor dibangun pemerintah maupun perorangan untuk mengaliri areal persawahan tadah hujan.  Penggunaan sumur bor berkembang pesat di desa Sidoasih,  Pematangpasir,  Berundung dan Tamansari. 
“Jadi tidak semuanya tanaman padi dilahan sawah tadah hujan akan poso. Sebab banyak juga yang menggunakan sumur bor untuk mengairi tanaman padi yang mulai kekeringan, “ ungkap Herlan.
Dari lahan seluas 1.634 hektare yang ada, Herlan memperkirakan sekitar 900-an hektare tanaman padi masih bisa panen karena mendapat pasokan air dari sumur bor. 
“Kalau hujan turun pekan ini tanaman padi di sawah tadah hujan masih bisa hidup.  Saat ini tanaman padi yang kekeringan pada umumnya masih tergolong ringan dan belum ada yang puso,” ujarnya. 
Avid Rakedi, petugas pengendali organisme pengganggu tanaman UPT Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kecamatan Ketapang meminta pada musim kemarau petani meningkatkan kewaspadaan dan pengendalian terhadap organisme pengganggu tanaman (OPT).
“ OPT yang perlu diwaspadai adalah tanaman yang menggunakan pupuk urea belebih akan menimbulkan bakteri penyebab kresek yang dapat mengurangi hasil panen 5 sampai 15. Selain itu serangan hama wereng, tikus, dan penggerek batang cenderung meningkat pada musim panas,“ ujarnya.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR