LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 16 July
7206
Kategori Teknologi
Editor Delima
LAMPUNG POST | Ratna Ciptakan Pengering Teri Sistem Hybrid
Sri Ratna Sulistyanti berjabat tangan dengan Gubernur Lampung M Fidho Ficardo. (Foto : Istimewa)

Ratna Ciptakan Pengering Teri Sistem Hybrid

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Pulau Pasaran di Bandar Lampung telah lama dikenal sebagai penghasil ikan teri nasi kering, dengan produksi bulanan tidak kurang dari 180 ton teri nasi kering dari berbagai jenis menjadikan Palau Pasaran sebagai pusat industri teri nasi Lampung. Namun, terdapat kendala, antara lain minimnya akses pasar, panjangnya jalur distribusi, dan tidak adanya bargain pengusaha ikan teri.

Salah satu permasalahan yang dikeluhkan industri mitra adalah proses pengeringan ikan teri yang masih menggunakan metode konvensional di tempat terbuka yang bergantung pada sinar matahari (sun drying). "Sementara panen raya teri biasanya bertepatan dengan musim hujan sehingga proses pengeringan menjadi tidak optimal, dapat menurunkan kualitas produk," ujar Sri Ratna Sulistyanti, peneliti Fakultas Teknik Universitas Lampung, Jumat (14/7/2017).

Ratna membuat sistem pengeringan menggunakan cabinet dyer dengan sistem blower secara bertingkat. Alat ini dirancang khusus untuk mengeringkan ikan dengan menggunakan energi listrik sebagai sumber energi primernya dengan arus 220 volt serta energi matahari menjadi sumber arus listrik dengan menggunakan panel surya sebagai sumber arus sekunder.

Melalui program Hi-Link Universitas Lampung, Ratna dibantu dengan tim peneliti lainnya, yakni Mahrus Ali, Sri Ratna Sulistyanti, Lindrianasari, Eko Efendi, Pemkot Bandar Lampung, Bappeda Kota Bandar Lampung, dan Subur selaku ketua RT Pulau Pasaran. Ratna menjelaskan spesifikasi alat yang digunakan untuk membangun sistem pengering ikan teri menggunakan sekat udara meliputi komponen instrumen Arduino Mega 2560 yang digunakan sebagai perangkat pengolah data dan perolehan data yang diperoleh dari lingkungan.

Kemudian alat dilengkapi dengan layar LCD 16 x 2 sebagai media tampilan data yang didapat dari lingkungan dalam proses oleh microcontroller, sensor LM 35 digunakan sebagai sensor yang bertuliskan suhu lingkungan, dan ensor DHT 11 digunakan sebagai alat untuk membaca kelembaban lingkungan. Ia melanjutkan alat pengering dilengkapi dengan kipas exhaust yang digunakan untuk menggerakkan udara masuk ke sistem, lalu pemanas digunakan untuk menaikkan suhu bila suhu alami inkubator kurang dari standar yang diinginkan.

Alat ditambahkan pengeringan kotak yaitu tempat ikan teri yang akan dikeringkan. "Selanjutnya ventilator turbin digunakan untuk menarik udara dari kotak pengeringan ke lingkungan dengan bantuan tenaga angin," ujar Ratna. Spesifikasi sistem ini memiliki dua model manipulasi temperatur. Model pertama yang memanfaatkan sinar matahari untuk mengeringkan metode ikan teri untuk menstabilkan suhu inkubasi serta penggunaan penghalang udara yang bertujuan menstabilkan perubahan suhu dan menyaring bahan padat yang bisa mengakibatkan ikan teri kotor.

Model kedua pemanas lampu menggunakan 12V DC, model ini akan meningkatkan suhu saat suhu alami inkubator kurang dari standar yang diinginkan. Perancangan sistem elektronik dengan tujuan agar sistem mampu bekerja dengan maksimal jika kondisi lingkungan tidak sesuai dengan nilai setpoint. Tindakan dari program microcontroller untuk menyesuaikan nilai pada nilai setpoint.

Ia menjabarkan jika suhunya lebih besar dari 60° Celsius, kipas pendingin akan menyala. Sementara jika suhu kurang dari 50°C, pemanas akan menyala. "Jika semua nilai sudah terpenuhi, program sudah selesai," tambah Ratna. Spesifikasi fisik pengering dibuat pada dimensi 400 cm x 700 cm x 60 cm. Kemudian material kerangka (hollow, galvanis) dengan tebal 3 mm, ditambah material penutup policarbonat hitam.

Sementara pemanas bersumber dari hybrid (panas matahari langsung dan pemanas buatan bersatu daya sistem tenaga surya). Untuk sirkulatornya, Ratna menggunakan turbin ventilator (56 cm) dan exhaust van. Lalu pada nampan peletakan ikan teri dipasang kasa antikarat dengan 9 unit lampu pijar 5 W, 9 unit lampu pijar 21 W, 9 unit lampu pijar 25 W, accumulator 45 Ah, dan panel surya 100 Wp.

Dari hasil penelitian Ratna, dapat diketahui bahwa hasil perendaman ikan basah terendam kontainer distilasi maksimal adalah 66,21%, diasumsikan sebagai ikan teri sebelum proses pengeringan. Kemudian setelah menguji kadar air yang terkandung dalam ikan teri yakni 42,54%, sehingga sinar matahari mampu mengurangi kadar air selama proses pengeringan sebanyak 23,67%.

Ia menambahkan prototipe pengering hybrid ini masih diletakkan di jurusan teknik elektro Universitas Lampung. Ratna menilai dengan pengering teri sistem hybrid, kebersihan ikan teri dapat dijamin, berbeda halnya bila ikan teri dikeringkan di bawah sinar matahari. Imbasnya, ikan teri dapat diekspor ke beberapa negara lain bila memungkinkan produksi berlimpah, sehingga mutu dan ekonomi nelayan di Pulau Pasaran bisa meningkat.

Pada tahun kedua program Hi-Link, Ratna menjelaskan setidaknya ada tiga jenis produk yang dapat dihasilkan masyarakat Pulau Pasaran, di antaranya adalah produk ikan asin, yang sebagian besar berupa ikan teri, lalu produk turunan berupa makanan camilan (kue kering) berbahan utama tepung ikan teri, produk ini seperti balado teri, teri crispy, teri kriuk, keripik teri, getas teri, teri balado, stik teri, teri gulung serta teri gulung wijen, dan produk turunan berupa pakan ikan berbasis limbah tepung kepala ikan teri.

Teri Siger

Dari ketiga jenis produk tersebut yang menjadi ikon Pulau Pasaran adalah ikan teri asin. Namun, hingga kini hanya sebagian masyarakat yang mengenal produk dari Pulau Pasaran, mereka lebih mengenal produk teri medan. Padahal, bahan baku teri medan sebagian besarnya diambilkan dari Pulau Pasaran. Sehingga melalui program Hi-Link ini pihaknya akan menyosialisasikan produk teri nasi Pulau Pasaran, tentunya setelah dilakukan perbaikan sanitasi, kemasan, dan aspek lainnya yang dibutuhkan untuk preverensi produks oleh konsumen.

"Kemasan yang kami usahakan berbentuk bundar yang terbuat dari mika, dengan merek Teri Siger Pulau Pasaran, komposisi, jaminan keamanan dari LPPMHP Lampung dan dikemas 250 g," tambah Ratna. Pulau Pasaran dengan luas wilayah mencapai 12 hektare memiliki keunikan karena letaknya yang dekat dengan ibu kota provinsi, tepatnya berjarak sekitar 100 meter dari tepi pantai Kota Bandar Lampung yang dapat ditempuh dengan perahu sekitar 5 menit.

Penduduk desa Pulau Pasaran mayoritas bersuku jawa dan suku Bugis. Secara umum struktur pemerintahan Pulau Pasaran termasuk Kecamatan Teluk Betung Barat, Kelurahan Kotakarang. Sektor perikanan menempati urutan pertama dalam mata pencarian warga desa Pulau Pasaran. Hal ini terlihat dari rata-rata mata pencarian mereka yang sebagian besar sebagai pengusaha pengasinan ikan, sedangkan sisanya sebagai nelayan, buruh harian, dan sebagainya.

Perekonomian masyarakat Pulau Pasaran mayoritas masih mengandalkan alam yaitu pengolahan ikan asin menggunakan sinar matahari langsung. Untuk meningkatkan posisi tawar nelayan dan kelompok nelayan di Pulau Pasaran, sejak tahun 2012 masyarakat berinisiatif mendirikan Koperasi Mitra Karya Bahari (MKB). Hingga saat ini koperasi MKB telah menjadi wadah masyarakat dalam melakukan sharing penyelesaian permasalahan masyarakat Pulau Pasaran.

Hingga kini koperasi MKB telah membawahi beberapa unit usaha, yakni 59 kelompok nelayan penangkap ikan, 39 unit pengolah teri bergabung lima kelompok, dan 1 kelompok wanita pengolah produk turunan teri, serta 11 kelompok pembudidaya kerang hijau. Usaha pemasaran teri nasi asin sangat bergantung pada pesanan dari Jakarta. Harga pun ditentukan sesuai dengan kehendak sepihak dari broker di Jakarta.

Sebagai pusat pengolahan ikan teri di Lampung, Pulau Pasaran menyerap banyak tenaga kerja, terutama kaum ibu dari luar pulau. Satu pengolah paling sedikit membutuhkan 10 tenaga kerja lepas untuk proses penjemuran dan pensortiran ikan teri, sehingga tidak kurang 400 ibu-ibu dari daratan di luar pulau yang setiap hari mengandalkan hidup bekerja di pulau Pasaran.

Tidak hanya itu, keindahan alam dan potensi sumber daya alam yang ada di Pulau Pasaran sangat memungkinkan untuk menjadi destinasi wisata bahari baru di tengah kota, seperti wisata pemancingan, pembudidaya kerang, penyelaman, kuliner apung, mangrove, produk perikanan, keramba dan rakit apung, serta budaya Pulau Pasaran.

Ratna menjelaskan ironisnya ikan teri ini di pasaran dikenal sebagai ikan teri medan, sehingga Lampung sebagai sentra ikan teri tidak mendapatkan kebanggaan dan tidak dikenal masyarakat luas. Maka dari itu, perlu dibuat sosialisasi dan pengenalan produk ikan teri khas Pulau Pasaran.

Saat ini melalui program Hi Link sudah dikenal Teri Siger kemasan vacum yang memiliki keunggulan dari segi higienisitas dan daya awet yang lebih baik dari pada ikan teri yang tidak dikemas atau hanya dikemas plastik biasa. Ke depan perlu upaya sosialisasi dan upaya pemasaran yang lebih masif agar produk ini semakin dikenal. Permasalahan lain yang urgen adalah tingkat kebersihan di Pulau Pasaran yang masih rendah, sampah di mana, kucing, bau, MCK yang tidak teratur dan lainnya.

"Program Hi Link telah berhasil mengubah Pulau Pasaran sehingga lebih ramah dan akomodatif terhadap kunjungan dari orang luar (wisatawan), sehingga dengan upaya-upaya tersebut ditambah beragamnya SDA Pulau Pasaran yang unik dan memiliki nilai jual memudahkan dalam pencanangan Mina Wisara Pulau Pasaran," tutur Ratna.

Ia menjelaskan timnya telah membuat media promosi secara online melalui website www.pulaupasaran.com, facebook: eksotismepulaupasan, dan https://tokopedia.com. Kegiatan Warga Tim Hi Link juga telah selesai mengusung konsep Rumah Makan Apung Mina Rasa yaitu pembuatan dan pencangan rumah makan terapung sebagai destinasi wisata di tengah laut sambil menikmati ombak dan budi daya kerang hijau.

Menu yang ditawarkan ikan kakap, bawal, kerang, dan teri dengan aneka jenis kuliner. Pengunjung dapat memesan sebelum ke Pulau Pasaran. Kegiatan ini untuk menyediakan kuliner berbahan dasar ikan di tengah laut tang telah dilakukan tim LPPM Unila dan masyarakat pada Mei 2016 lalu. Selanjutnya program Festival Pulau Pasaran juga telah dilakukan pada April 2016.

Festivalisasi kegiatan di Pulau Pasaran dimaksudkan untuk menarik minat wisatawan dan meningkatkan kesadaran masyarakat Pulau Pasaran mengenai pentingnya menjaga potensi alam dan lingkungan serta kesiapan masyarakat dalam menyambut wisatawan. Kegiatan yang dilakukan berupa parade perahu hias, lomba masak serba ikan, lomba foto, karya tulis, dan pengajian akbar.

Tujuannya, lebih mengenalkan Pulau Pasaran sebagai destinasi wisata bahari. Tim Hi Link bahkan telah menyelesaikan lomba fotografi, lomba karya tulis dan lomba masak pada Mei 2016 lalu. Kegiatan lomba bermaksudkan untuk menarik partisipasi dari masyarakat luas dan khususnya masyarakat Pulau Pasaran dalam mengkampanyekan potensi wisata Pulau Pasaran.

LAMPUNG POST

BAGIKAN


TRANSLATE
  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv