RAMADAN telah tiba. Bulan suci yang dinanti umat Islam untuk beribadah menyucikan diri guna menggapai rida, ampunan, dan rahmat Allah. Untuk sempurnanya ibadah Ramadan, orang tidak cukup hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga harus menahan diri dari segala perbuatan yang bisa membatalkan maupun mereduksi nilai ibadah Ramadan.

Salah satu perbuatan yang harus dihindari selama Ramadan adalah menggibah, yakni bergunjing dengan mencela, menghina, mencaci, menghujat, bahkan ada yang isinya semata fitnah, dan itu bukan hanya dalam bentuk ucapan langsung, melainkan juga yang dilakukan melalui media sosial, media elektronik, tulisan lewat media cetak, pamflet, hingga selebaran.



Hal itu layak diingatkan karena Ramadan kali ini bertepatan dengan puncak masa kampanye pilkada serentak. Apalagi, belakangan sudah mulai terlihat adanya kampanye negatif baik melalui media sosial bahkan lewat selebaran yang dibagikan langsung ke masyarakat. Kasusnya telah ditangani Gakkumdu—gabungan penegak hukum terpadu.

Dengan semua pihak dalam kampanye pilkada serentak selama Ramadan menahan diri dari melakukan serangan kampanye negatif dalam segala bentuknya, ketenangan masyarakat tercipta, umat bisa kondusif menjalankan ibadah. Dengan itu, Ramadan menghadirkan kedamaian dan ketenteraman hati masyarakat.

Kepada para calon dalam pilkada serentak agar tidak lempar batu sembunyi tangan yakni melakukan kampanye hitam dengan menyebar selebaran dan sebagainya melalui sel-sel di luar nama orang-orang yang terdaftar dalam jajaran juru kampanye, tapi amat mudah dikenali jaringannya terkait dengan orang-orang dekat sang calon.

Meski hukum mungkin sukar mengaitkan perbuatan ini dengan seseorang calon, masyarakat yang dengan mudah membaca jaringannya bisa membenci sang calon akibat cara curangnya itu. Dengan rasa benci itu, jelas orang tidak akan memilihnya sehingga pola lempar batu sembunyi tangan kampanye hitam itu nyata justru merugikan sang calon terkait.

Ramadan telah tiba. Seseorang yang merasa telah melakukan perbuatan yang tidak pada tempatnya bisa kembali ke jalan yang benar. Hipokrasi pura-pura tidak tahu suatu kampanye hitam padahal merupakan operasi dari kubu juru kampanyenya, diakhiri dengan tulus pasrah diri ke hadirat Illahi Robbi untuk menjadikan kemenangan pada pilkada sebagai takdir dirinya.

Umat ingin khusyuk beribadah Ramadan, bersih dari usikan ujaran kebencian, gibah, dan fitnah berbau politik di medsos atau lainnya. ***

PENULIS

H. Bambang Eka Wijaya

TAGS


KOMENTAR