LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 19 June
6469
Kategori Opini
Editor Sri Agustina

Tags

LAMPUNG POST | Ramadan Bulan Pendidikan
Ramadan bulan penuh berkah. (Ilustrasi)

Ramadan Bulan Pendidikan

BULAN yang dikenal juga sebagai bulan ampunan, bulan dikabulkannnya doa, bulan keberkahan, bulan rahmat. Bulan Ramadan juga dikenal dengan bulan pendidikan (syahru al-tarbiyah) bagi manusia. Momentum Ramadan sebagai bulan pendidikan adalah ditegaskan dalam Alquran Surah Al-Baqarah Ayat 183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana yang diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. Ayat ini memberikan gambaran kepada kita bahwa akhir yang akan di capai dari orang-orang yang berpuasa adalah takwa.

Menurut Ali Abdul Wahid Wafi dalam Sukron Maksum (2009), terdapat korelasi antara puasa dan ketakwaan. Korelasi tersebut dapat dilihat dari empat dimensi, pertama puasa menuntut orang yang menjalankannya untuk menahan diri dari hasrat-hasrat biologis kebutuhan vital tubuh demi mengimplementasikan perintah Allah dan mendekatkan diri pada-Nya. Kedua, puasa tecermin dalam hal-hal negatif yang hanya diketahui Allah, tidak terlihat orang lain. Dengan demikian, orang yang berpuasa ini benar-benar tulus demi mencari rida Allah tanpa dikotori noda-nodanya.

Ketiga, orang yang sedang berpuasa ia menahan diri dari makan dan minum sehingga dapat menurunkan kekuatan tubuh sekaligus melemahkan pengaruh kekuatan ini pada seorang hamba. Keempat, puasa melatih keinginan untuk menguasai hasrat dan hawa nafsu, sehingga seseorang mendapatkan kekuatan kekebalan terhadap hasrat dan hawa nafsu ini pada saat tidak berpuasa.

Nilai Pendidikan Puasa Ramadan

Ramadan sebagai bulan pendidikan setidaknya terdapat tiga nilai pendidikan yang terkandung dalam puasa Ramadan. Nilai pendidikan pertama yang terdapat pada puasa Ramadan adalah nilai pengembangan kecerdasan intelektual. Hampir banyak terdapat dalam literatur sejarah peradaban Islam, kita diajarkan untuk menahan diri dari banyak makan dan minum secara berlebihan dikarenakan akan mengurangi kemampuan kerja otak dalam menyerap informasi dan mengembangkannya.

Sehingga para ilmuwan-ilmuwan muslim dahulu menerapkan pada diri mereka untuk memanfaatkan puasa sebagai saat yang tepat menuangkan gagasan dan ide dari pemikiran mereka dalam bentuk membaca dan menerapakan hasil bacaan tersebut dalam bentuk tulisan. Seperti kita ketahui berdasarkan studi Most Littered Nation In The World yang dilakukan oleh Centeral Conecticut State University pada tahun 2016, Indonesia menempati peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat baca. 

Nilai pendidikan yang kedua yang terdapat dalam bulan Ramadan adalah nilai pengembangan kecerdasan emosional. Seperti kita ketahui puasa adalah bukan hanya semata-mata menahan diri dari makan dan minum semata-mata, tetapi juga meminta kita untuk melakukan pengendalian diri (self controll) dan penganturan diri (self regulation). Menurut Sigmund Freud, hawa nafsu manusia lebih mengedepankan prinsip keinginan semata untuk fokus hanya meraih kesenangan semata-mata. Orang-orang yang gagal dalam mengendalikan hawa nafsunya akan dikembalikan ke derajat yang paling rendah, ”Kemudian kami kembalikan manusia dalam keadaan yang serendah-rendahnya (QS At-Tin: 5).

Kecerdasan emosional merupakan bagian dari kemampuan berinteraksi dengan orang lain secara baik dan juga berusaha merasakan apa yang orang lain rasakan. Berpuasa dengan aturan pokok menahan haus dan lapar membuat kita juga merasakan penderitaan yang dialami oleh orang-orang yang tidak punya di sekitar kita, sementara kita masih bisa memilih menu berbuka puasa, makan malam, dan makan sahur dengan baik serta diwajibkan berpuasa hanya satu bulan saja. Sedangkan orang-orang yang tidak mampu terkadang mereka berpuasa sepanjang tahun dan tidak dapat memilih menu berbuka makan malam dan sahur karena ketiadaan biaya.

Kecerdasan emosional juga melatih kita untuk senantiasa jujur dalam berpuasa, karena dalam berpuasa kita tidak boleh makan dan minum serta seandainya kita mau secara diam-diam untuk makan dan minum tentu kita dapat melakukannya, akan tetapi dengan tertanamnya nilai kejujuran kita tidak melakukannya karena berkeyakinan bahwa puasa kita bukan hanya diawasi oleh manusia tapi juga oleh Allah Subhana Wata’ala. Saat ini pendidikan kita terfokus pada prestasi sebagai pembandingan antar individu, sehingga terkadang dengan segala cara dilakukan untuk mendapatkan nilai yang sempurna, sehingga ruang nilai-nilai kejujuran sering tidak mendapat ruang.

Sebagaimana puasa, pendidikan juga seharusnya mengutamakan proses dari pada mengutamakan hasil akhir. Bagaimana mungkin kita sanggup berlebaran dengan gembira padahal puasa yang kita jalankan kurang sempurna, begitu juga dengan pendidikan seseorang yang menjalani proses dengan baik, maka hasil menjadi tidak terlalu penting. Fokus pada nilai akhir tanpa memperhatikan proses membuka ruang untuk membiasakan korupsi di tingkat pendidikan, budaya menyontek, mengintip jawaban teman dan membuka catatan. Guru memberikan tugas tanpa memeriksanya juga turut mendukung perilaku korup.

Nilai pendidikan yang ketiga terdapat pada bulan suci Ramadan tentu saja nilai spiritual. Nilai-nilai spiritual yang dapat kita rasakan di bulan Ramadan ini adalah bertambahnya keinginan kita untuk memperbaiki ibadah yang kita lakukan. Membaca Alquran menjadi kebiasaan, salat berjemaah di masjid, meningkatkan salat malam, salat duha, dan masih banyak aktivitas spiritual yang lain. Nilai-nilai spiritual yang terdapat dalam bulan Ramadan ini juga bukan hanya terfokus pada teori dan hafalan, akan tetapi juga langsung pada praktiknya dalam kehidupan sehari-hari.

Apa yang menjadi produk unggulan dari nilai-nilai spiritual adalah perlunya menanamkan rasa ikhlas, sabar, dan jujur dalam setiap perbuatan kita dan bagaimana hubungannya dengan pendidikan. Dunia pendidikan sangat memerlukan penerapan rasa ikhlas, sabar, dan jujur yang tinggi pada semua orang yang terlibat di dalamnya, mulai dari guru, murid, orang tua, masyarakat, hingga pemerintah yang terkait dengan pendidikan.

Rasa ikhlas yang tumbuh nantinya membuat kita dalam bekerja tidak terfokus pada mendapatkan gaji atau uang semata-mata, bahkan pada akhirnya menumbuhkan identitas kita yang sebenarnya. Begitu juga adanya sifat sabar akan membuat kita mengajar anak didik dengan sepenuh hati dan kejujuran akan membuat dunia pendidikan benar-benar menjadi harapan dan tumpuan dari semua orang yang terlibat didalamnya.

Dalam puasa sendiri, mendidik manusia agar menjadi orang yang jujur. Seseorang itu apakah sedang berpuasa atau tidak yang mengetahui hanyalah dirinya sendiri dan Allah swt, sehingga digambarkan puasa hanya untuk Allah, maka Allah sendiri yang akan memberikan pahalanya. Tentu sejatinya kejujuran orang yang berpuasa terus dipelihara sepanjang kehidupan sehari-hari. n

LAMPUNG POST

BAGIKAN

TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv